Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PENGARUH TAN MALAKA TERHADAP PENDIDIKAN


A. Biografi Tan Malaka


         Tan Malaka merupakan Pahlawan Nasional yang dikenal memiliki pemikiran penting

bagi Indonesia. Pemikiran Tan Malaka diabadikan melalui buku-bukunya, termasuk yang

berjudul "Madilog" Ia memiliki nama lain dengan gelarnya yaitu Ibrahim Gelar Datuk Sutan

Malaka. Tan Malaka dilahirkan di Padang Gadang, Suliki, Minangkabau, Sumatera Barat.

Tanggal kelahirannya tidak ada yang pasti. Menurut Harry A. Poeze, Tan Malaka menganggap

tanggal lahirnya 14 Oktober 1894. Ada juga bermunculan tahun yang lain yaitu tahun 1893,

1895, 2 Juni 1896, 2 Juni 1897 dan 1899. Poeze cenderung memilih bahwa tahun kelahiran

Tan Malaka adalah tahun 1897 dengan asumsi pada tahun 1903 ia telah mengikuti pendidikan

di sekolah rendah dan berusia 6 tahun. Dibesarkan dalam lingkungan adat dan ajaran Islam

yang kuat, sangat mempengaruhi cara berpikir dan sikap Tan Malaka. Adat istiadat dan

peraturan-peraturan yang melingkupinya menjadi landasan kuat khususnya pada masa anak-

anak. 

             Tradisi intelektual dan merantau telah menjadi keniscayaan bagi masyarakatnya. Salah

satu cara membekali diri dalam proses tersebut adalah dengan menempuh pendidikan di

sekolah. Perkembangan sekolah di desa Tan Malaka hanya ada dua jenis, yaitu sekolah

pemerintah kelas satu (khusus anak-anak priyayi dan sekolah lanjutan) dan sekolah

pemerintah kelas dua (pendidikan dasar). Ketika berumur 6 tahun, pendidikan formal yang

ditempuh Tan Malaka adalah pendidikan sekolah kelas dua (Tweede Klasse School)

tahun 1903-1908. Nama "Tan Malaka" sendiri merupakan gelar adat yang ia sandang sejak

usia 16 tahun. Gelar itu kemudian melekat dan menjadi identitas perjuangannya

hingga akhir hayat.


B. Latar Belakang Pemikiran Pendidikan Tan Malaka

 

              Latar belakang keilmuan dan pemikiran Tan Malaka penting untuk ditelaah bagi

pemahaman sejarah pemikiran pendidikan atau sebagai refleksi bagi pengembangan

pendidikan Indonesia. Konsep pendidikan kerakyatan Tan Malaka berbasis pada rakyat dan

sebagai usaha untuk memerdekakan rakyat dari penjajahan. Pemikiran pendidikan Tan

Malaka dipengaruhi oleh latar belakang akademis dan pengalaman sosial serta didasarkan

pada ideologi materialisme, dialektika dan logika yang diyakininya. Tan Malaka mulai

menyuarakan kritiknya dan sekaligus menunjukkan cara pandang mengenai sistem pendidikan

di Hindia Belanda saat itu dan membandingkannya dengan kondisi ideal pendidikan

kerakyatan yang diharapkannya. Melalui pendidikan yang dijalankan secara demokratis,

kritis, berkeadilan, dan menanamkan mentalitas sosial, diharapkan manusia dapat

menggerakkan berbagai bidang kehidupannya seperti politik, budaya, agama, sosial, dan

ekonomi. Dengan demikian proses kehidupan seperti ini secara perlahan akan mewujudkan

bentuk ideal masyarakat Indonesia, yaitu masyarakat sosialis.


             Gagasan Pendidikan dalam "Madilog". Salah satu kontribusi terbesar Tan Malaka

terhadap dunia pendidikan adalah pemikirannya yang dituangkan dalam karya monumental

"Madilog" (Materialisme Dialektika-Logika). Meski bukan buku pendidikan Islam.

gagasannya banyak digunakan dalam pembaruan pendidikan Islam. antara lain:a. Berpikir rasional dalam memahami ajaran agama Tan Malaka menekankan bahwa iman yang kuat harus sejalan dengan akal yang sehat.

b. Membangun tradisi berpikir kritis, la menolak hafalan tanpa pemahaman dan

mendorong peserta didik untuk bertanya, menganalisis, dan mencari kebenaran secara ilmiah.

c. Integrasi ilmu agama dan ilmu umum. Menurutnya, pendidikan Islam harus

menghasilkan umat yang cerdas secara spiritual sekaligus tangguh secara intelektual dan

sosial.

d. Pendidikan sebagai alat pembebasan. Melalui pendidikan, umat harus bisa keluar dari:

Kebodohan, Kemiskinan, Penjajahan fisik maupun mental. Konsep-konsep ini sejalan dengan

tujuan pendidikan Islam modern.


C. Pengaruh Tan Malaka terhadap Pendidikan Islam di Minangkabau


1. Lahirnya Model Madrasah Modern

      Pemikiran Tan Malaka turut mendorong tokoh-tokoh Minangkabau untuk memperbarui

sistem pendidikan Islam. antara lain: Memasukkan mata pelajaran umum dalam madrasah,

Mengurangi metode hafalan murni, Menggunakan kurikulum terstruktur, Memperkuat

metode diskusi, logika, dan analisis, Modernisasi lembaga pendidikan Islam seperti Sumatera,

Thawalib. Diniyah School, dan madrasah Kaum Muda sebagian dipengaruhi oleh gagasan

pembaharuan yang juga selaras dengan pemikiran Tan Malaka.


2. Pendidikan sebagai Gerakan Sosial

    Tan Malaka memperkenalkan konsep bahwa pendidikan tidak boleh hanya mencetak

ahli agama, tetapi juga: Intelektual Muslim, Pemimpin umat, Aktivis sosial, Pejuang

kemerdekaan. Pandangan ini menjadikan pendidikan Islam bukan hanya ritual dan teks, tetapi

juga alat perubahan sosial.


3. Akses Pendidikan untuk Kelompok Marjinal

         Sikapnya yang mendirikan sekolah khusus untuk anak-anak buruh menunjukkan bahwa

Tan Malaka memandang pendidikan Islam harus: Inklusif, Membela kaum lemah,

Menjangkau masyarakat miskin, Berbiaya murah atau gratis. Ide ini mempengaruhi model

"madrasah rakyat" di beberapa daerah Minangkabau.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Tan Malaka melanjutkkan pendidikannya di sekolah

guru Kwekschool Ford De Kock di Bukit Tinggi pada tahun 1908. Sekitar tahun 1913 Tan

Malaka bisa mengikuti ujian akhir di Kweekscool dan memperoleh nilai yang memuaskan.


    Menurut Harry A. Poeze (1988: 24), karena kecerdasannya juga, akhirnya Tan Malaka dibantu

para guru dan kerabat untuk bisa belajar di Belanda. Dengan kelulusan ini, Tan Malaka

kemudian melanjutkan studinya ke Belanda negeri yang menjajah tanah airnya. Kepergiannya

ke Belanda dalam rangka studi ini mendahului tokoh-tokoh Indonesia lainnya yang juga sama-

sama pernah merasakan studi di negeri itu, misalnya Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Abdul

Muis dan Abdul Rivai. Horensma (guru Tan Malaka) menaruh harapan besar pada Tan

Malaka untuk berhasil meraih ijazah guru mengingat muridnya yang satu itu dikenal cerdas.

Karenanya, Horensma kemudian mengusahakan tempat yang efektif dan strategis untuk

belajar bagi Tan Malaka di Belanda, yaitu Harleem. Selain itu Horensma juga yang

menguruskan dana perjalanan dan belajar Tan Malaka di negeri kincir angin itu, selainmenyumbangkan dana secara khusus dari Suliki. Selama Tan Malaka berada di Belanda, ia

banyak bergaul, dan dari pergaulannya terutama dengan keluarga induk semangnya, sebuah

keluarga buruh yang hidup agak kekurangan, membuatnya semakin respek pada perjuangan

buruh, di samping bacaannya sendiri tentang perkembangan di Eropa khususnya dan

dunia pada saat itu. Apa yang dialami Tan Malaka di Belanda sangat mempengaruhi

perkembangan pemikirannya. Di sana Tan Malaka juga mulai mendatangi diskusi-diskusi

tentang perjuangan pembebasan bangsa tertindas dan membaca brosur terbitan tentang

kemenangan revolusi Rusia 1917. 

         Tan Malaka juga bertemu dengan Suwardi Suryaningrat   (Ki Hajar Dewantara) yang memintanya untuk mewakili Indische Vereeniging dalam kongrespemuda Indonesia dan pelajar Indologie di Deventer, Belanda. Dari sekian banyak pergaulan,salah satu yang membuatnya berkesan adalah pertemuannya dengan tokoh-tokoh komunisBelanda seperti Henk Snevliet dan Wiessing, saat diskusi politik serta perjuangan kelas.Keinginan membebaskan dan memerdekakan bangsanya dari jajahan Belanda pun muncul.Dari segi pendidikan, Tan Malaka adalah lulusan sekolah keguruan di Belanda denganmendapatdiploma guru. Kepulangannya ke Indonesia setelah menamatkan pendidikannya diBelanda, Tan Malaka memulai karirnya dengan menjadi seorang guru untuk anak-anak kuli

kontrak yang bekerja di perkebunan Senembah Mij, Tanjung Morawa, Deli, Sumatera Timur milik seorang Belanda bernama Dr.C.W. Janssen. Selama menjadi guru di Deli 1919-1921,

Tan Malaka menyaksikan dan merasakan realitas sosial yang tragis dan memilukkan.

             Kegelisahan terhadap nasib bangsanya dimana Tan Malaka menyaksikan kekejaman para

kapitalis Belanda mengeksploitasi tanah perkebunan dan menyiksa buruh-buruh pribumi bangsanya. Tan Malaka mencatat, pertentangannya dengan orang-orang Belanda di tempatnya mengajar setidaknya bermuara pada empat permasalahan, yaitu perbedaan warna kulit, pendidikan terhadap anak para kuli, tulis menulis dalam surat kabar di Deli, dan hubungannya dengan kuli-kuli perkebunan itu. Tahun 1921, Tan Malaka resmi mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai seorang guru anak-anak kuli di perusahaan Senembah dan bertolak ke Semarang.

     

        Tan Malaka mengemukakan bahwa tujuan dan dasar mengajar kepada anak kaum kromodan anak kuli sudah ada kurikulumnya. Untuk menyempurnakan kurikulum tersebut, Tan Malaka mencoba mendekati masyarakat setempat, guna mengetahui tabiat, kemauan, kecondongan hati masing-masing para siswa dalam hal pendidikan. Selain kedekatan Tan dengan para siswa, ia juga mencoba mendekati para orang tua siswa untuk mengetahui keinginan pendidikan orang tua terhadap anak-anak mereka atau bisa dikatakan dengan metode dialog. Tujuan pendidikan bagi Tan Malaka ialah mempertajam kecerdasan otak, memperkukuh kemauan si murid, serta memperhalus perasaan si murid tersebut, di samping pendidikan kecerdasan, kemauan dan perasaan itu, mesti ditanamkan juga kemauan dan kebiasaan pekerjaan tangan, karena pekerjaan penting dan tak kurang mulianya dari pada pekerjaan otak semata-mata. Tan Malaka berpendapat, pendidikan merupakan sebuah usaha untuk membebaskan manusia dan bangsanya dari ketidaktahuan, ketertindasan, dan kesengsaraan. Menjadikan hidup lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan sekitarnya, tidak ada lagi kasta dan pemisah kelas-kelas sosial. Tan Malaka mengungkapkan bahwa pendidikan merupakan sebuah usaha yang dapat membebaskan masyarakat dari kelemahan dan

terlemahkan, kebodohan, serta ketertindasan yang tiada ujungnya. Konsep dan Saran Pendidikan Tiga Konsep Utama yang diberikan Tan Malaka (dalam Naar de Republiek Indonesia): Wajib sekolah gratis sampai umur 17 tahun untuk semua warganegara. Menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan Bahasa Inggris sebagai bahasa asing terpenting. Menghapus peraturan dan asas pendidikan sekarang (1920-an) dan mendirikan pendidikan baru yang praktis, berhubungan dengan industri, dan didirikan oleh sekolah-sekolah rakyat, sekolah-sekolah dagang, teknik, administrasi, sekolah-sekolah bagi

pegawai tinggi, dan lain-lain. Mendirikan Sekolah SI yang memihak kepada rakyat melarat merupakan tujuan mereka. Hasil yang dijalankan oleh Sekolah SI untuk mempersiapkan para murid untuk bergerak membela rakyat melarat, kemungkinan kerja keras ini akan menuai hasilnya dalam 10 atau 15 tahun ke depan. Semakin banyak lulusan Sekolah SI yang ada, maka semakin besar juga kaum terpelajar yang memiliki ilmu dan digunakan untuk membela perjuangan membela

kaum melarat.

          Makin besar dan banyak sekolah buatan SI yang didirikan, makin cepat juga Sarekat Islam sampai pada padang kemajuannya Malaka. Pendidikan yang mengasah kecerdasan dan ilmu yang bermanfaat dalam menjalani hidup murid di masa depan, seperti keahlian teknik, pertanian, administrasi, juga dipraktikkan di Sekolah SI. Harapan Tan Malaka supaya bisa membangun pemuda-pemudi Indonesia yang beriman, berideologi suci, terang, dan yang terpenting kepandaian dalam kehidupan diri sendiri dan keluarganya. Sekolah Sarekat Islam (SI) menanamkan seorang guru untuk mengajar tiga kali seminggu. Guru diambil dari murid SI yang sudah berusia minimal 13 tahun dan memiliki kemampuan membaca-menulis, berhitung, serta bahasa Belanda. Murid senior boleh mengajar murid junior dan memperoleh gaji. Sistem gaji dihitung berdasarkan jumlah kelas dan murid; semakin banyak murid, semakin besar pendapatan guru serta pemasukan sekolah. Tan Malaka menanamkan nilai kejujuran, keberanian, kecintaan terhadap murid, dan pengabdian pada bangsa. Ia menempatkan posisi murid sebagai amanah besar yang harus dijaga guru. Hubungan yang baik antara Tan Malaka dan murid-muridnya menunjukkan pentingnya peran guru dalam pembentukan karakter. Pengalaman Tan Malaka menjadi guru, baik di Indonesia maupun di luar negeri, membentuk pemikiran revolusionernya. Ia mengharapkan murid-murid SI menjadi cerdas, mampu keluar dari kemiskinan, dan tidak mudah diperalat penjajah karena memiliki ilmu serta kepribadian kuat. Sekolah SI juga berperan membantu murid mendapat pendidikan yang relevan dengan kebutuhan hidup, seperti kejuruan perdagangan dan pertanian. Murid dapat bekerja sama

dengan organisasi buruh, perdagangan, dan politik, sehingga melahirkan tenaga terampil untuk kemajuan bangsa menuju kemerdekaan. Pengalaman Tan Malaka di Belanda dan Deli semakin menguatkan tekadnya untuk berjuang mencerdaskan bangsa melalui sekolah. Ia dikenal sebagai pendiri "Sekolah Tan Malaka" dan berhasil membentuk karakter murid muridnya menjadi pribadi yang kritis dan berjiwa nasional. 



Oleh : Milka Andar Mafrinda Kader 24

Posting Komentar untuk "PENGARUH TAN MALAKA TERHADAP PENDIDIKAN"