Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Budaya, pandangan, dan cinta: Bedah Buku Arah Langkah




    Dari lembaran-lembaran buku berjudul arah Langkah, beberapa orang mungkin dapat menyimpulkan persepsi awal mereka,  ketika mengamati judul buku ini mungkin gambaran yang muncul di kepala mereka adalah mengenai arah suatu tujuan, itu benar. Lantas apa kaitannya dengan budaya, pandangan, dan cinta dalam setiap Langkah itu? Jawabannya begitu banyak, namun tulisan ini hanya dapat mengulik beberapa pecahan dari setiap pengalaman tokoh utama pada buku ini, jadi tak ada kesempurnaan di sini. 


Cuaca mendung disertai hujan kala itu, ketika pembicara memulai cerita mengenai perjalanan tokoh utama pada buku, ia melakukan perjalanan jauh untuk menyusuri wilayah yang ada di Indonesia, perjalanan itu tak mudah, begitu banyak tantangan yang harus mereka lalui untuk mewujudkannya, dan yang paling terasa adalah uang saku seadanya untuk kelangsungan hidup keesokan harinya. 


Hari demi hari berlalu, jerih payah itu terbalaskan dengan pengalaman menarik yang mungkin saja tak dapat kita temukan di berbagai buku. Ketika mereka berhenti di suatu tempat dimana budaya yang disangka akan tergusur oleh arus modernisasi, ternyata masih tetap terjaga oleh generasi penerus dari tempat itu, padahal tak ada penolakan hal apapun dari luar untuk masuk ke lingkungan mereka. Budaya mereka adalah menyambut dengan sangat baik dan penuh kesopanan setiap orang luar dengan marga yang sama, namun bukan berarti mereka akan mencaci orang luar yang berbeda. 


Langkah tokoh utama pada buku dipertemukan oleh budaya yang kental dan tak tergusur oleh zaman, namun tak berhenti sampai disitu, akhirnya ia menemukan permasalahan dalam pandangan. Tak sedikit ia mendengar selama perjalanan kalau tempat pemberhentian mereka berikutnya adalah tempat dengan warga yang tak ramah, begitu kata setiap warga kampung sebelah. Namun mereka terkejut ketika mengetahui ternyata warga desa itu begitu sangat ramah menerima kehadiran mereka, tak ada cacian, pengusiran, dan kebencian. Warga desa begitu tulus dalam membantu mereka.

Hal itu dapat membuat kita Kembali berpikir, bahwa begitu banyaknya pandangan setiap manusia dan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Kita tak mampu menyimpulkan suatu pandangan sebelum membuktikannya secara langsung dengan mata terbuka, menandakan diperlukannya bukti nyata untuk itu. 


Waktu pun semakin cepat berlalu, tak terasa hujan mulai reda dan masjid-masjid mulai menggemakan shalawat, menandakan waktu shalat maghrib sudah dekat, pembicara mengucapkan beberapa kalimat sebelum menutup bedah buku sore itu, “tokoh utama pada buku ini ingin mendaki gunung semeru, karena ia sedang putus cinta” begitu ucapnya.


Dari kalimat itu aku mengambil Kesimpulan, bahwa perjalanan ini didasarkan oleh cinta yang tak terjalin dengan baik atau ibaratnya sebuah pelampiasan. Tanpa sebuah cinta si tokoh utama tak akan pernah mengetahui tentang budaya, tanpa sebuah cinta ia tak akan pernah tau bahwa setiap pandangan masih perlu untuk dipastikan kebenarannya, tanpa sebuah cinta tak akan ada tujuan untuk melakukan perjalanan ke setiap wilayah di Indonesia. Semuanya karena cinta walaupun itu menyakitkan namun begitu banyak manfaat yang diambil oleh si tokoh utama karenanya.


     Buku arah langkah, adalah langkah tanpa tujuan yang tertutupi oleh rasa sakit dari hati, namun seutas benang pelampiasan membawa langkah itu menuju dunia yang begitu luas, menatap setiap keindahan alam, budaya, dan keberagaman Masyarakat. Pikiran dianggap dangkal ketika menganggap semua pelampiasan adalah hal yang buruk, juga dianggap dangkal saat seseorang justru berlarut-larut dalam rasa sakitnya, padahal pelampiasan mampu membawanya memahami berbagai macam hal, namun pelampiasan yang kumaksud sifatnya baik. Ingat kalimatku di awal, “taka da kesempurnaan disini”

Terima kasih


By: Farhat Abdillah To Ngili (kader 24)




Posting Komentar untuk "Budaya, pandangan, dan cinta: Bedah Buku Arah Langkah"