Pelatihan Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah : DAKWAH MUHAMMADIYAH SEHARUSNYA SEPERTI RUMAH SAKIT
Ilmu ini aku dapatkan ketika Stadium General kegiatan Pelatihan Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh PC IMM Sukoharjo pada—Jum'at, 19 September 2025. Dengan tema "Strategi Dakwah Ijtihad Kontemporer", yang diisi oleh Ustadz Ahmad Norma Permata.
Dalam upaya dakwah, PP Muhammadiyah berusaha untuk membuat Desain Peta Dakwah yang kemudian diturunkan ke bawahnya PWM, PDM, PCM, PRM.
Tentu, membuat peta tidak sesederhana yang dibayangkan, karena banyak hal yang perlu untuk dikoordinasikan dan dirancang sedemikian rupa. PP Muhammadiyah sendiri juga berupaya menggunakan MOU untuk menggerakkan mahasiswa dan dosen untuk membuat Peta Dakwah (terkait kondisi yang ada disana).
Harapannya: Dakwah Muhammadiyah itu seperti rumah sakit, meskipun penyakitnya beragam namun penanganannya dapat sesuai dan tepat.
Lalu, apa maksud dari "Dakwah Muhammadiyah seperti Rumah Sakit?”
Di Indonesia sendiri, terdapat aneka ragam budaya, suku, dan agama—antara perkotaan, pedesaan, dan pedalaman pun memiliki culture yang berbeda.
Di kota misalnya, karakteristik masyarakat perkotaan didominasi oleh individu yang rasional, sibuk, dan berorientasi pada pencapaian pribadi. Hubungan sosial cenderung longgar dan didasarkan pada kepentingan profesional atau ekonomi. Masyarakat kota menghargai kompetensi, efisiensi, dan hasil nyata.
Jika dakwah hanya mengandalkan pendekatan tradisional (seperti pengajian di masjid), dampaknya akan terbatas. Masyarakat urban lebih tertarik pada kontribusi praktis yanIg dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Oleh karena itu, dakwah harus disalurkan melalui lembaga-lembaga profesional yang berbasis skill (keahlian), seperti: Rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan berkualitas, Sekolah dan universitas yang menyediakan pendidikan unggul, Panti asuhan yang dikelola secara profesional, Lembaga zakat yang transparan dan efektif.
Dengan cara ini, Muhammadiyah tidak hanya menyebarkan ajaran agama, tetapi juga menunjukkan relevansinya dengan memberikan solusi konkret atas tantangan hidup di perkotaan.
Lalu di Pedesaan, karakteristik masyarakat disana adalah Berbasis Guyub. Kehidupan di desa sangat erat dengan nilai-nilai guyub atau kebersamaan. Hubungan sosial didasarkan pada kekerabatan, tradisi, dan partisipasi aktif dalam kegiatan komunal (berkelompok). Maka tak jarang kalian mendengar jargon di Desa "Yen Ra Srawung, Rabimu Suwung", sebuah ungkapan yang digunakan agar masyarakat disana dapat terlibat aktif diberbagai kegiatan desa dan juga dapat diartikan sebagai "sanksi sosial" jika tidak aktif maka jangan harap mereka juga ikut terlibat diberbagai kegiatan yang sedang kalian lakukan dirumah dan membutuhkan bantuan mereka.
Kemudian, apa pendekatan yang tepat untuk masyarakat di pedesaan?
Berbeda dengan dakwah di perkotaan, pendekatan yang terlalu formal atau "dari luar" akan sulit diterima. Dakwah harus masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat melalui adaptasi dan partisipasi aktif. Muhammadiyah harus terlibat dalam kegiatan sosial yang sudah menjadi kebiasaan, seperti gotong-royong, acara adat, atau pertemuan desa. Dengan menyesuaikan diri dan menjadi bagian dari komunitas, Muhammadiyah dapat membangun kepercayaan, sehingga ajaran agama dapat disampaikan secara lebih mudah dan tidak dianggap sebagai ancaman terhadap tradisi lokal.
Terakhir, adalah masyarakat pedalaman, karakteristik masyarakat ini ialah berbasis etnis (kelompok orang yang memiliki ciri-ciri budaya, sejarah, dan identitas sosial yang sama, membedakan mereka dari kelompok lain).
Di wilayah pedalaman, identitas etnis (misalnya Jawa, Makassar, dan Sumatera Barat) sangat kuat dan menjadi landasan utama interaksi sosial. Masing-masing etnis memiliki budaya, bahasa, dan pandangan dunia yang berbeda.
Pada bagian ini Muhammadiyah tidak bisa menggunakan satu pendekatan universal. Dakwah harus sensitif terhadap perbedaan etnis dan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kelompok.
Jawa: endekatan bisa melalui jalur budaya, seperti seni dan tradisi lokal.
Makassar: Pendekatan dapat melalui jalur kekerabatan dan tokoh-tokoh adat yang dihormati.
Sumatera Barat: Pendekatan bisa berfokus pada nilai-nilai adat (adat bersendi syarak) yang sudah mengakar kuat.
Maka dari itu, maksud dari "Dakwah Muhammadiyah seperti Rumah Sakit" ialah dalam hal berdakwah di tiap wilayah itu seharusnya memiliki strategi yang berbeda sesuai kebutuhan dan culture masyarakat masing-masing.
Detailnya, analogi ini menekankan pentingnya diagnosis dan penanganan yang spesifik. Sama seperti rumah sakit yang tidak bisa menyembuhkan semua penyakit dengan satu obat, Muhammadiyah tidak bisa menggunakan satu metode dakwah untuk semua wilayah. Strategi dakwah harus diadaptasi secara cermat berdasarkan "penyakit" atau tantangan spesifik yang dihadapi di setiap lokasi.
Penyakit (Masalah atau Kebutuhan): Setiap wilayah memiliki "penyakit" atau masalah yang berbeda, seperti tantangan moral, ekonomi, sosial, atau pendidikan.
Diagnosa (Peta Dakwah): Proses pembuatan peta dakwah adalah langkah "diagnosa" awal untuk memahami kondisi riil di lapangan. Hal ini melibatkan penelitian dan pengumpulan data untuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik masyarakat.
Penanganan (Strategi Dakwah): Berdasarkan hasil diagnosa, disusunlah strategi dakwah yang "tepat dan sesuai" untuk menangani "penyakit" tersebut. Ini adalah "pengobatan" yang dirancang khusus.
Sedikit yang bisa aku tulis, semoga bermanfaat.
Penulis : Athifah Ari Daryani Fabanyo (Ketua Bidang Perkaderan IMM Abduh)

Posting Komentar untuk "Pelatihan Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah : DAKWAH MUHAMMADIYAH SEHARUSNYA SEPERTI RUMAH SAKIT"