Seperti panasnya pilpres dan muktamar, panasnya Indonesia udah nggak ngotak
Seperti panasnya pilpres dan muktamar, panasnya Indonesia
udah nggak ngotak
pasca pemilu hawa di solo terasa panas, tapi sumber utama
hawa panas ini bukan dari hasil real count sementara pemilu capres cawapres
yang mana memang solo yang terkenal kandang banteng tapi capres yang diusung
banteng kalah dengan suara mas walikota.
begitu pula di palembang yang bahkan menurut BMKG sempat
menyentuh 36 derajat celcius. dan lagi - lagi sumber panasnya ternyata bukan
berasal dari suasana muktamar IMM yang sampe lempar lemparan kursi.
usut punya usut ternyata hawa panas ini memang sudah terjadi
setahun belakangan. hal ini dipertegas lagi beberapa hari pasca dua agenda
pemilihan tersebut, Copernicus ECMWF sebuah lembaga di Uni Eropa yang memantau
perubahan iklim menerbitkan laporan bahwa total rata - rata suhu global bumi
dalam 12 bulan terakhir sudah mencapai ambang batas 1.5C yang ditetapkan dalam
perjanjian paris.
(sumber https://www.ft.com/content/8927424e-2828-4414-86b7-f3a991214288?sharetype=blocked )
walah walah perubahan iklim?, ambang batas 1.5C?, perjanjian
paris?, Panganan opo iku?. ada baiknya coba kita bahas dulu satu satu barang
opo sih iku perubahan iklim
efek rumah kaca dan krisis iklim
kita mulai dari efek rumah kaca, seperti cara kerja rumah
kaca untuk pertanian di negara yang punya musim salju, panas matahari yang
masuk lewat atap rumah kaca sebagian dipantulkan sebagian lagi masuk dan
terperangkap di dalam rumah kaca untuk menaikkan suhu. atau contoh lainnya yang
dekat sama keseharian kita, mobil keluarga yang biasanya kita parkir di
lapangan pas njagong di siang hari pasti pas kita masuk lagi ke mobil hawa
panasnya nggak ketulungan. kurang lebih begitu juga cara kerja efek rumah kaca dalam
skala planet bumi.
sebenarnya proses ini merupakan hal yang alami terjadi,
sebab tanpa kehangatan suhu planet bumi nggak mungkin bisa dijadikan tempat
tinggal makhluk hidup. lha wong dinginnya tawangmangu aja banyak yang nggak
kuat apalagi kalau bumi tanpa proses pemanasan alami oleh matahari.
pemanasan ini secara alami di imbangi dengan tumbuh -
tumbuhan yang menyerap karbon, pasca revolusi industri dimana mesin mulai
ditemukan dan pabrik - pabrik banyak sekali didirikan semakin menambah karbon
yang ada di atmosfer yang menyebabkan panas bumi semakin meningkat. nah sialnya
pendirian pabrik - pabrik ini justru diperparah dengan penebangan liar yang
luar biasa. semakin nyatalah pemanasan bumi.
akumulasi dari efek rumah kaca dan kerakusan manusia inilah
yang menyebabkan krisis iklim terjadi, bencana “alami” yang kita rasakan
semakin banyak dan nyata terjadi, sepanjang tahun ini sangat sering kita
melihat berita atau malah merasakan langsung dari bencana - bencana tersebut.
bayangkan saja di muktamar depan kisruhnya bukan lagi soal
klaim kemenangan beberapa pihak tapi bisa jadi banjir atau mungkin longsor dan
bencana lain yang disebabkan tingkah laku manusia yang serakah.
sudah barang tentu muktamar kali itu bisa di anggap cupu
oleh senior - seniornya bukannya lempar lemparan kursi, musyawirin malah sibuk
jadi pengungsi dadakan, sudah jadi barang pasti muktamar saat itu akan di cap
“tanpa dinamika” oleh para senior.
begitu juga dengan pemilu, bahkan pemilu sekarang saja di
beberapa tempat sempat tertunda sebab bencana alam, seharusnya ini sudah bisa
jadi peringatan keras buat para calon pemimpin, kan ngga lucu kalo besok tugas
KPPS harus dirangkap jadi petugas SAR karena banyak titik TPU terkena bencana
alam, kalo tugasnya evakuasi manusia mungkin petugas KPPS akan lebih mulia tapi
kalo yang di evakuasi kotak suara nampaknya para petugas pun mikir dua kali
buat terjun ke lapangan
perjanjian paris dan ambang batas suhu 1.5C
ternyata hawa panas ngga cuma dirasakan warga solo dan
palembang tapi seluruh dunia, maka pada tahun 2015 Negara - Negara di seluruh
dunia termasuk Indonesia yang tergabung di Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang
Perubahan Iklim melakukan kesepakatan di Paris untuk bekerja sama mencapai nol
emisi dan menekan rata - rata kenaikan suhu global 1.5 derajat celcius pada
tahun 2030.
kenapa harus 1.5? apa jangan jangan ini angka keramat atau
mistis yang dipercaya seluruh dunia?. 1.5 ini bukan angka keramat tapi anjuran
dari berbagai peneliti seluruh dunia yang tergabung di IPCC(Panel
Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim).
ambang batas 1.5C inilah yang dirasa “aman” menurut
peneliti. sebab bila laju industri dan pembabatan hutan ini tidak
dihentikan/ditekan maka bencana “alami” yang akan melanda akan jauh lebih
parah. kekeringan, kekurangan pangan, kenaikan air laut merupakan bencana yang
tidak dapat dihindari.
di Semarang aja kita bisa liat kenaikan air laut dan
penurunan permukaan tanah terjadi cukup parah. bayangkan kalo negara - negara
di dunia tidak bersepakat untuk menekan kenaikan suhu. bukan tidak mungkin
negara kepulauan seperti kita akan kehilangan banyak pulau - pulau kecil dan
pesisir. ngga usah nunggu gunung keramat meletus udah tenggelam pulau jawa.
selain itu kenaikan suhu yang ekstrim pasti juga akan
mengganggu para immawan dan immawati untuk diskusi dan kegiatan yang lain, lha
wong sekarang aja gangguan nya udah cukup banyak mulai dari ngantuk sampai
mending main daripada kegiatan imm, apalagi kalo ditambah suhu yang ekstrim,
boro - boro kegiatan keluar kost aja panas yo mending tidur apalagi buat yang
ngekost ada ac nya, fixs mending turu bro.
implikasinya terhadap pemilu dan muktamar
lha terus hubungannya sama pemilu dan muktamar apa?. pemilu
yang nanti akan menentukan siapa yang memimpin negara kita tentu memiliki peran
yang cukup krusial dalam perkara iklim ini. pola hidup go green yang dilakukan
para kader IMM ngga akan berarti selama negara ngga berkomitmen untuk menekan
penebangan hutan yang masif dan pendirian pabrik yang berlebihan dan ngga
sesuai pengelolaan limbahnya. belum lagi sumber energi yang menyuplai industri
- industri tersebut masih menggunakan batu bara yang jelas jelas ngga bersih
dan banyak polusi.
jadi selain kita secara individu harus lebih sadar terhadap
lingkungan, kita juga perlu mengingatkan pemerintah untuk peduli terhadap
persoalan ini karena skala kerusakan yang dilakukan industri sangat jauh lebih
besar daripada kerusakan yang dilakukan individu.
begitu pula muktamar IMM sebagai salah satu ajang
konsolidasi nasional, sangat perlu para kader IMM selain lempar lemparan kursi
juga harus lempar lemparan gagasan terkait gimana kita sebagai kader IMM harus
bersikap dan bertindak di saat bumi sudah di ujung batasnya. agak ngga lucu
kalo bumi udah mau hancur tapi kita masih rebutan siapa yang menang muktamar
maka terakhir bagi saya siapapun yang terpilih dari pemilu
dan muktamar ini plislah, plis banget ini tolong diperhatikan masalah
lingkungan berpihaklah kepada rakyat jangan industri!.
Posting Komentar untuk "Seperti panasnya pilpres dan muktamar, panasnya Indonesia udah nggak ngotak"