Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Demokrasi Millenial


Berthold Brecht ( 1898 – 1956 ), seorang penyair kenamaan Jerman pernah mengatakan, “Buta terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencur, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional yang menguras kekayaan negeri”.

Demokrasi bangsa ini tentu akan hancur dengan sendirinya, bila seandainya banyak masyarakatnya yang tak peka dengan peristiwa politik di sekitarnya. Maka, partisipasi para pemuda dalam kancah politik begitu di perlukan untuk membawa perubahan yang lebih baik. Atau setidaknya dapat memperbaiki apa yang menjadi kekurangan dari politik yang sudah usung ini. Perubahan ada di tangan pemuda yang tak buta dengan peristiwa politik yang terjadi saat ini. Dan representasi pemuda ada di tangan generasi milenial di era ini. Peran dari milenial menjadi penting sebab keberadaanya merupakan generasi penerus yang akan memimpin bangsa ini di tahun 2045.

Untuk membuat perubahan politik usang ke arah politik yang ideal, para generasi milenial harus memahami hakekat demokrasi dan partai politik. Demokrasi harus dipahami sebagai pemerintahan yang di dasari pada kedaulatan hak-hak rakyat. Para milenial harus memahami demokrasi sebagai mekanisme politik. Sementara partai politik merupakan instrumen media dalam melaksanakan pergerakan politik. Partai politik menjadi kunci bagi para milenial untuk membenahi kondisi kebangsaan bangsa ini.

Demokrasi bukan sekedar angka partisipasi dalam pemilu, demokrasi bukan hanya rentetan institusi politik, bahkan bukan hanya kebebasan menyampaikan pendapat. Lebih dari itu, demokrasi adalah kedaulatan rakyat yang bertanggung jawab dalam tata kelola pemerintahan sebuah negara. Tugas kita bagaimana menjalankan hak dan kewajiban sesuai etika. Tidak boleh ada pemaksaan kehendak. Tiap orang harus menghormati segala keputusan hasil dan mufakat.

Atas dasar itu para generasi milenial yang berkapabilitas baik harus berani terjun ke politik praktis. Tujuannya untuk membenahi partai politik itu sendiri, lalu mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia dengan berlandaskan paham demokrasi. Dengan begitu, pergerakan politik milenial, yang sesuai dengan landasan demokrasi dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia akan terwujud.

Karya: IMMawan Bagus Nur 'Aalimu 

Posting Komentar untuk "Demokrasi Millenial"