Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Konsep Pemberdayaan Masyarakat Menurut Para Ahli Bagi Mahasiswa

 

Konsep Pemberdayaan Masyarakat Menurut Para Ahli Bagi Mahasiswa

Pengertian Pemberdayaan Masyarakat

Menurut soeharto (2006:76) pemberdayaan masyarakat merupakan upaya untk memandirikan masyarakat serta potensi kemampuan yang mereka memiliki. Adapun pemberdyaan masyarakat senantiasa menyangkut dua kelompok yang sering terkait yaitu masyarakat sebagai pihak yang diberdayaakan dan pihak yang menaruh kepedulian sebagai pihak yang memberdayakan. 

Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya meningkatkan kemampuan dan potensi yang dimiliki masyarakat sehingga masyarakat dapat mewujudkan jati dirinya, serta mengangkat harkat dan martabatnya secara maksimal untuk bertahan dan mengembangankan diri secara mandiri baik di bidang ekonomi, sosial, agama, dan budaya (widjaja.2003:169).

Menurut Eko (2004:11) Pemberdayaan merupakan sebuah gerakan dan proses berkelanjutan untuk membangkitkan potensi, memperkuat partisipasi, membangun peradaban dan kemandirian masyarakat.

Penulis menyimpulkan bahwa pemberdayaan masyarakat merupakan upaya mewujudkan produktivitas masyarakat dengan potensi yang ada dalam masyarakat mikro yang dilakukan oleh orang berkemampuan pada bidang-bidang tertentu.

Kritik Kegiatan-Kegiatan Sosial Masyarakat (Bakti Sosial)

Masyarakat adalah kumpulan dari individu sosial, masyarakat madani merupakan impian yang sebaiknya terwujud di dalam diri masyarakat dengan masyarakat madani dapat mengembangkan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Kesejahteraan diukur dari bagaimana mereka tercukupi tanpa kesulitan dalam mendapatkan bahan kebutuhannya. Maka ketika masyarakat sudah bisa mandiri dan bekerja sama antar individu untuk mencapai kesejahteraan, dikatakanlah masyarakat madani sejahtera.

Setidaknya ada beberapa poin kritik kegiatan bakti sosial:

a. Konsep bakti sosial hanya pemberian jangka pendek, seperti pemberian sembako.

b. Alokasi dana tidak digunakan untuk pembiayaan pemberdayaan sosial, lebih banyak dihabiskan untuk pembelian sembako.

c. Tidak melibatkan masyarakat setempat dalam proses bakti sosial atau pemberdayaan sosial, masyarakat hanya dijadikan objek pemecahan masalah bukan subjek pemecahan masalah.

d. Tidak berkolaborasi dengan pihak-pihak luar. Kolaborasi mempermudah suplai, tenaga, dan pendanaan. Kolaborasi dapat dilakukan dengan satu rumah ideologis atau gerakan. Contoh jika membutuhkan suplai tenakes (tenaga kesehatan) bisa berkolaborasi dengan instansi kesehatan atau PMI. Kemudian satu ideologis yakni ketika organisasi otonom Muhammadiyah bisa berkolaborasi dengan pimpinan ranting Muhammadiyah jika bakti sosial lingkup desa. Dengan keadaan itu akan membantu dan mewujudkan sinergitas antar instansi atau ortom Muhammadiyah. Karena dengan berkolaborasi juga menambah relasi, menyebarluaskan syiar dengan lebih luas cakupannya, dapat menambah basis masa atau relawan atau simpatisan. 

Dengan adanya kritik ini maka perlu adanya formulasi untuk keluar dari tantangan yang dirasa kurang tersebut, karena demi mewujudkan kegiatan pemberdayaan masyarakat atau bakti sosial yang holistik dan berdampak. Langkah yang tidak terburu-buru pasti akan membuahkan hasil yang baik, maka disini membutuhkan pemimpin kegiatan yang memiliki kompetensi yang bernalar organisasi dan bernalar sosial, dengan nalar organisasi pemimpin atau ketua pelaksana akan sistematis-administratif dalam membawa anggotanya. Karena banyak dari ketua pelaksana yang tidak ingin ribet dengan kejeliannya administrasi. Kemudian memiliki pengorganisasian yang baik dengan ketua-ketua divisi, memiliki perencanaan jadwal, dan fokus kepada target progres pra-pelaksanaan. Analisis diperlukan dari awal survei kepada masyarakat juga diperlukan untuk menentukan konsep pemberdayaan dan komponen-komponen yang harus dibutuhkan dalam kepanitiaan seperti pihak kolaborasi dsb.

Ketua pelaksana dengan kompetensi nalar sosial, sosio-humanis yang artinya mampu untuk merasakan problematik masyarakat dalam skala mikro maupun makro atau setidaknya memiliki kepekaan kepuasan masyarakat setempat atas pencapaiannya namun sesungguhnya bagian tersebut masih bisa dimaksimalkan kembali potensinya. Misalkan dalam ranah pariwisata, di suatu daerah sudah ada tempat wisata dengan kelompok-kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang sudah bergerak selama ini, namun setelah ditelusuri bahwa wisata di tempat tersebut belum berkembang baik alias satgnan karena masyarakat belum terberdaya untuk menggunakan langkah-langkah strategi dalam menggunakan teknologi informasi yang mutakhir. Sehingga pemberdaya masyarakat dapat memberikan arahan dan bersama-sama untuk mengatasi ke-stagnansian wisata tersebut, begitu pula dengan aspek keahlian lain misal desa hutan, desa religi, desa budidaya dsb.

Penterjemahan Nilai dan Keilmuan Kampus kepada Masyarakat

Islam memberikan kemampuan fitri, akli, dan persepsi kejiwaan kepada manusia untuk hanya mementingkan masalah-masalah dasar kemanusiaan belaka. Kemampuan ini disalurkan melalui sejumlah pranata keagamaan, seperti teori hukum (legal theory, usul fiqh) dan filsafat pendidikan agama, ke dalam jalur penumbuhan pandangan dunia yang mementingkan keseimbangan antara hak-hak perorangan dan kebutuhan masyarakat manusia dalam penyelenggaraan hidup kolektif yang berwatak universal.

Penyelenggaraan hidup kolektif dalam menghadapi permasalahan khususnya di daerah objek pemberdayaan masyarakat. Memerlukan formulasi dalam mengusahakan cipta daya di suatu tempat. Watak masyarakat yang berbeda-beda, maka pemberdayaan membutuhkan sebuah komunikasi langsung kepada masyarakat dengan baik, yakni agar mudah diterima oleh masyarakat. Penulis menyebutnya penterjemahan atau bisa disebut pendekatan, dalam lingkup Fakultas Agama Islam, maka pemberdayaan masyarakat yang bisa diusahakan adalah pemberdayaan desa toleran beragama (umum) secara khusus yakni pemberdayaan sumber daya manusia dengan kompetensi paham agama (ustaz, kiai, guru ngaji) yang berintelektual dan berwawasan. 

Nilai dan keilmuan kampus yang dimiliki oleh mahasiswa saat pelaksanaan pemberdayaan memerlukan yang namanya penterjemahan dari tingkat mahasiswa kepada masyarakat umum atau setempat, karena tingkat pemahaman masyarakat satu dengan yang lain itu berbeda. Mudahnya diterima oleh masyarakat adalah keinginan agar berhasil atas tujuan pemberdayaan. Kerja keras untuk usaha memudahkan membutuhkan eksperimen serta riset.


Pendekatan Pemberdayaan Masyarakat

1) Terarah, ditujukan langsung kepada yang memerlukan dengan program yang dirancang untuk mengatasi masalahnya dan sesuai kebutuhannya.

2) Mengikutsertakan masyarakat, program harus langsung mengikutsertakan atau bahkan dilaksanakan oleh masyarakat yang menjadi sasaran.

3) Pendekatan kelompok, jika masyarakat menghadapi masalah secara individu maka akan sulit.


Strategi Pemberdayaan

1) Mudah diterima

2) Dapat dikelola

3) Memberikan pendapatan

4) Pengelolaan dan hasilnya dapat dikembangkan lebih luas


Langkah Pemberdayaan Masyarakat

1) Mengidentifikasi masyarakat setempat

2) Mengumpulkan pengetahuan tentang pola kehidupan masyarakat setempat

3) Identifikasi tokoh masyarakat setempat

4) Stimulus komunitas terhadap permasalahan yang ada

5) Mendorong inisiatif

6) Menetapkan skala prioritas

7) Membangun rasa percaya diri masyarakat

8) Menetapkan program

9) Meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengkaji

10) Tindakan terencana yang diarahkan untuk mengubah kehidupan

11) Meningkatkan kapasitas dan kemandirian masyarakat

Penutup, pemberdayaan masyarakat merupakan kegiatan aktualisasi mahasiswa. Biasanya dalam program KKN atau program dari Kemendikbud yang berbasis pemberdayaan desa. Segenap teknis dan alur pemberdayaan dari program-program mahasiswa sudah ada, namun yang penulis jadikan perhatian adalah hal-hal yang mungkin luput karena kesalahan paradigma mahasiswa dalam memaknai pemberdayaan masyarakat atas program formal atau non-formal. Pendanaan dalam program pemberdayaan merupakan kunci penting dengan ini menjadi tantangan mahasiswa bagaimana dapat mendapatkan suplai dana untuk penyelenggaraan pemberdayaan masyarakat. Kritik-kritik di atas semoga dapat membangun dan menjadi perhatian dari aktivis mahasiswa dalam belajar terjun di masyarakat, karena semua membutuhkan perencanaan dan pengelolaan yang baik.

Penulis: IMMawan Jermanda Ridwan Kurniaji (Ketum Abduh 2023)


Posting Komentar untuk "Konsep Pemberdayaan Masyarakat Menurut Para Ahli Bagi Mahasiswa"