Hikayat Paradigma di Indonesia
Hikayat Paradigma di Indonesia
Sebenarnya mustahil Indonesia punya masalah kemiskinan, tanah air yang kaya seperti ini, seperti Korea yang tidak punya apa-apa itu kaya. Indonesia udah 10 tahun kok masih masalah kemiskinan terus. Itu apa sebabnya? Apa karena bodohnya pemimpin atau bagaimana? Tapi jangan bilang begitu, menurut saya begini, kalau anda membangun apapun seluruh di Indonesia kalau paradigma anda masih paradigma Yunani kuno sampai Renaisans sampai globalisasi yang sekarang. Maka anda akan tetap menjadi ekor dari globalisasi.
Anda akan tetap tidak mampu membangun paradigma baru yang dunia akan mau tidak mau akan ikut anda. Jadi kalau paradigma anda itu ikut Yunani kuno, Jawa di bunuh, Islam di bunuh, kemudian caranya melihat kebesaran itu apa sih, oh kebesaran itu peninggalan gedung yang tinggi besar. Kalau menurut saya tidak perlu di buka. Borobudur itu tidak ada indahnya kalau dibandingkan dengan mall-mall, tidak ada listrik. Apa sebabnya? Karena kalau mall itu paradigma Yunani kuno Renaisans dan globalisasi tapi kalau Borobudur itu letaknya tidak di tanah, Borobudur itu letaknya dalam kesadaran theosofi dan filosofinya masyarakat Indonesia. Jadi Borobudur itu dibangun di dalam jiwa anda, sama dengan Kakbah.
Apa keistimewaan Kakbah itu? Hanya kotak-kotak tidak ada ukurannya, tidak ada lighting-nya ya hanya ditutupi kain hitam. Apa istimewanya? Kalau paradigma anda paradigma Yunani kuno dan modernisasi secara Barat. Kakbah itu apa? Nah kita harus berani merintis paradigma baru. Harus mengerti kebesaran cara kita itu bagaimana. Karena ada beda sangat besar. Kita tidak pernah membangun materialisme, yang kita bangun adalah kepribadian manusianya.
Tidak berarti sekolah itu tidak penting, tidak berarti gedung-gedung tidak penting, penting, tapi dia tidak nomor satu. Kita ini ya, ayam ingin terbang seperti burung, tidak bisa terbang ayamnya hilang, karena kita paradigma paradigma burung, padahal kita ini ayam, kita semut, tapi anak-anak sapi. Semut itu tidak terlawan oleh siapapun, kalau memberantas sapi sedunia bisa dibunuh, tapi kalau semut tidak bisa anda bunuh semua. Tidak bisa Indonesia dibunuh siapa saja, karena dirimu itu semut-semut hitam jangan anak-anak sapi. Kita sudah belajarkan bagaimana semut-semut bagaimana mekanisme pemerintahannya, bagaimana pangannya, bagaimana pertahanan komunitas, bagaimanakan sudah belajar. Itu metabolisme dan organisme diciptakan Allah langsung, bagaimana lebah, bagaimana semut, surat di Al-Qur'an.
Artinya disini kita harus berani nyicipi paradigma baru dengan cara pandang. Kenapa Indonesia sampai sulit, di Indonesia itu adanya cari untung aja lewat korupsi, kepentingan pribadi terus, tidak pernah memikirkan rakyat, naik pangkat terus urusannya.
Jadi rakyat tidak pernah yang namanya "manunggaling kawula Gusti" tidak belajar kepada gundul pacul, manunggaling kawula Gusti dianggap sebagai kebatinan, tidak! Manunggaling kawula Gusti itu adalah kalau sudah menjadi pemimpin, di dalam dirimu itu manunggal antaranya kawulo dan Gusti, Tuhan menyatu dengan rakyat di dalam dadamu, kalau engkau menyakiti Tuhan rakyatmu yang akan protes dan hancur, kalau engkau menyakiti rakyat Tuhan yang akan marah. Maka setiap raja di Indonesia harus menyatukan rakyat dan Tuhan di dalam dirinya, itulah akar atau pangkal manajemen dia di dalam membangun keadaan di tempatnya.
Tidak ada gedung jelek seperti kakbah, tapi tidak ada tempat pariwisata yang didatangi orang tanpa henti, tidak ada detik yang tidak thawaf semua orang thawaf, intinya kakbah itu tidak pernah istirahat di thawaf, tidak ada promosi, tidak pakai iklan pemasaran didatangi orang terus. Itu enak sekali Arab tidak ngapa-ngapain didatangi orang tiap hari, tidak ada diskon. Apakah Nabi Muhammad pernah berpikir ekonomi dan kapitalisme? Kamu tau nggak, kakbah adalah contoh bahwa kalau kamu berbuat baik kamu akan menjadi pusat energi, kamu akan menjadi pusat magnet, kamu akan didatangi oleh uang, kamu jangan mencari uang, bikinlah uang yang mencarimu, jangan nemu tapi ditemui oleh uang.
Bangsa Indonesia adalah bangsa besar di muka bumi ini. Bangsa Indonesia punya keunggulan alam dan manusianya, melebihi semua yang ada di dunia ini, dan Indonesia tidak akan menjajah siapapun. Orang yang menjajah adalah orang miskin orang yang merendahkan adalah orang yang rendah, Indonesia tidak merendahkan siapapun. Indonesia saja di jajah mau, diperkosa diam saja. 350 tahun diperkosa kemudian tahun 1945 istirahat, tanya... Sudahkah ini? Lho Indonesia itu tidak pernah mati, tidak ada matinya Indonesia itu.
Ada yang salah di Indonesia ini, ada 3. Indonesia ini salah al-Fatihahnya salah akad nikahnya salah akarnya dan tanahnya saat menanam. Indonesia harus diperbaiki UUD 45 nya, Pancasila nya, teksnya mungkin tidak, tapi pemahamannya paradigma berpikirnya terhadap itu harus dibenahi, maka Indonesia ini harus tetap di recovery, tetap dilahirkan kembali. Nomor dua, yang salah al-Fatihahnya orang Islamnya, Islam yang sampai kamu itu Islam bukan Islam dari pabriknya nabi Muhammad, sudah diambil oleh grosir, setelah itu diambil lagi dibeli oleh agen-agen sub-sub agen, kemudian kamu mengerti Islam itu dari pengecer-pengecer, itu sudah mazhab KW 4. Kemudian kamu anggap hasil pengecer ini Al-Qur'annya pabriknya, bukan, pelajari kembali Islam. Tidak begini Islam itu, iya kalau sembahyang kamu benar hanya kalau silaturahmi politiknya tidak begitu Islam itu. Kita tidak belajar 10 tahun nabi Muhammad di Madinah, kenapa tidak kita pelajari belajarnya mulai Abu Bakar, Umar bin Khattab dst. Nabi Muhammad dengan madaniyahnya kita tidak mempelajari. Kita harus melihat master plan nabi Muhammad membangun kota Madinah. Karena Rasulullah adalah kepala negara tanpa jabatan dan tanpa negara, tapi menjadi master plan dan melebihi semua orang. Dan undang-undang yang dibuat di Madinah bukan hasil DPR atau orang-orang pintar hasil sekolahan. Undang-undang Madinah dibuat oleh kedaulatan rakyat, dan kedaulatan rakyat itu hilang ketika Abu Bakar mulai menjadi Khalifah, kedaulatan rakyat menjadi legalitas kepentingan politik.
Penulis: IMMawan Jermanda Ridwan Kurniaji
(Ketua Umum PK IMM Muh Abduh)

Posting Komentar untuk "Hikayat Paradigma di Indonesia "