Nasionalisme atau Narsisme
Nasionalisme atau Narsisme
Overproud merupakan istilah yang belakangan ini sering muncul di media sosial, apakah kata ini hanya sebatas keluar dari orang yang nyinyir atau memang ada sesuatu dibalik itu?. belakangan ini istilah tersebut sering muncul untuk melabeli orang orang yang bangga saat negara kita mendapat pujian dan marah - marah saat ada merendahkan Indonesia, yang mana dua hal tersebut semakin sering kita jumpai di media sosial dengan dalih ekspresi nasionalisme. lalu mengapa kita haus akan pengakuan internasional?
Dalam mengupas fenomena overproud ini kita perlu kembali ke pertengahan abad ke 20 dimana kita menjadi tuan rumah dari perhelatan olahraga akbar ASIAN Games tahun 1962 dimana saat itu kondisi negara kita belum siap untuk menjadi tuan rumah acara akbar internasional tersebut, ibukota bahkan pada saat itu belum menjadi kota metropolitan seperti yang kita lihat saat ini, sehingga pemerintah di bawah instruksi presiden soekarno menggarap beberapa proyek infrastruktur yang ambisius untuk menunjang ASIAN Games seperti Gelora Bung Karno, Hotel Indonesia, Monas, Masjid Istiqlal, Jalan Sudirman - Thamrin dan Cawang - Grogol bahkan jembatan semanggi hanya dalam waktu 2 tahun. begitu pula dengan TVRI stasiun televisi pertama Indonesia dibuat untuk menyiarkan kemegahan ASIAN Games di Indonesia kepada khalayak Internasional dalam melihat peristiwa ini para sejarawan menyebutnya dengan politik mercusuar, bagi Soekarno politik ini memiliki tujuan untuk menjadikan Jakarta atau Indonesia sebagai mercusuar yang dapat menerangi jalan bagi NEFO(New Emerging Force) atau negara negara yang masih berkembang yang tergabung dalam gerakan non-blok, dan pembangunan dalam politik mercusuar tidak lain untuk menunjukkan daya saing bangsa serta semakin membuat posisi bangsa Indonesia semakin diperhitungkan oleh internasional.
Namun semua pembangunan tersebut dilakukan saat kas negara dalam keadaan kosong dan terdapat banyak permasalahan mendesak lainnya bahkan indonesia sampai harus berhutang pada uni soviet untuk merealisasikan pembangunan tersebut sehingga banyak sekali kritikan yang diutarakan kepada presiden Soekarno, dikutip dari buku penyambung lidah rakyat indonesia terbitan 2014, menanggapi kritikan tersebut Soekarno berpendapat “ya, memberantas kelaparan memang penting, tetapi memberi jiwa mereka yang tertindas dengan sesuatu yang dapat membangkitkan kebanggaan- ini juga penting.”. argumen presiden Soekarno memang masuk akal terlepas dari caranya, kolonialisme yang memang menanamkan serta bertumpu pada rasa inferioritas bangsa jajahan, bangsa penjajah menganggap dirinya lebih baik daripada jajahannya pun juga jajahannya yang merasa demikian jikalau penjajahnya lebih baik daripada dirinya, maka atas dasar inilah soekarno berpendapat bahwa dalam pembangunan ambisius ini juga pembangunan psikologi bangsa bahwa Indonesia juga maju juga pintar dan juga modern seperti bangsa lainnya karena bagi soekarno merdeka bukan hanyalah tentang mengusir penjajah akan tetapi juga dibarengi dengan pengusiran rasa rendah diri di mata bangsa lain.
Ekspresi monumental yang meraih perhatian dunia ini seakan mendefinisikan rasa nasionalisme kita hingga saat ini, rasa yang akan membara apabila ada pujian serta pengakuan dari bangsa lain terhadap kita. memang rasa pengakuan dan penerimaan itu penting dalam psikologis individu hingga politik internasional namun obsesi dari dari pengakuan dan penerimaan sama dengan obsesi lainnya yang merupakan gejala dari gangguan jiwa. pada saat itu mungkin presiden soekarno tidak menyadari rasa nasionalisme yang dibangunnya bukan nasionalisme yang memiliki harga diri yang utuh, gejala overproud yang berkembang diadopsi dan dipelihara oleh media yang akhirnya dapat disebut narsisme kolektif sebuah imajiner kejayaan sebuah kelompok yang bergantung pada pengakuan kelompok lain. harga diri dan narsisme tentu dua hal yang berbeda orang yang memiliki gejala narsistik sangat mungkin memiliki harga diri yang rendah atau sebuah rasa inferior yang ada dalam dirinya narsisme kolektif di Indonesia berakar dari rasa inferior yang sudah tertanam sejak masa kolonial lalu rasa itu muncul dalam sifat yang hipersensitif, defensif dan agresif terhadap cemoohan. gejala narsistik bangsa kita pun menjadi bulan bulanan media mulai dari pembuat konten kecil hingga industri hiburan acap kali mengeksploitasi hal ini sehingga kerap kita lihat seorang bule yang berbicara tentang apapun terkait indonesia hampir pasti diserbu netizen begitu pula film industri besar yang menggunakan lokasi indonesia atau aktor indonesia atau bahkan hanya menyebut indonesia yang bisa menjadi teknik marketing mereka yang terbukti ampuh dalam menggaet penonton. lantas bagaimana dengan diri kita sudahkah kita berkaca?? mari kita renungkan

Posting Komentar untuk "Nasionalisme atau Narsisme"