Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dedikasi Berkarya Progresif, Jiwa Dedikasi Tinggi Melahirkan Karya Yang Berprogres Kearah Kemajuan

 

Dedikasi Berkarya Progresif, Jiwa Dedikasi Tinggi Melahirkan Karya Yang Berprogres Kearah Kemajuan

Tulisan ini mengandung usaha untuk memahamkan pembaca. Saya penulis memiliki spirit yang tinggi dan mendasar dalam berproses sesuai dengan kesempatan yang telah diberikan. Allah Subhanahuwata`ala sendiri merupakan Tuhan Yang Maha Terpuji dan Maha Besar, Dia yang patut dipuji karena Allah Subhanahuwata`ala itu terus menerus berperan dalam menjalankan ranah sebagai Rabb An-Naas Tuhannya seluruh manusia, Rabb Al-`Aalamiin Tuhannya seluruh alam semesta. Dia patut dipuji, patut disembah, patut dijadikan tujuan akhir dalam setiap aktivitas. Allah Subhanahuwata`ala jika kita perhatikan, Dia itu selalu berkarya. Maka patutlah Allah menjadi Maha Yang Selalu di Puji... Lillahi maa fi as-samaawati wal ardli, innallaha huwa al-ghaniyyul hamiid... bahwa langit bumi itu milik Allah dan Allah Maha Kaya dan Terpuji. Kembali lagi kalau sesuatu yang nampak dimana sebuah kinerja nyata itu dihasilkan, jadi seseorang akan diberikan ganjaran bisa berupa apresiasi materi atau ucapan. Tidak heran kok kalau yang nyata-nyata itu pasti akan mendapatkan respon. Bukti nyata itu sudah banyak dan selalu hadir, tadi bahwa Allah itu penjaga langit dan bumi sehingga seluruh makhluk mengakui bahwa itu sungguh luar biasa, tidak perlu jauh-jauh, walau contoh Allah itu selalu dekat, bahwa seorang penyanyi terkenal sebut saja Mba Raisa, dengan lagu-lagu yang ia ciptakan maka pada akhirnya dia akan mendapatkan hasilnya, atas jerih payahnya, atas kegigihan serta spirit minat bakatnya ia enjoy alias menikmati progresivitas karya-karyanya di bidang musik. Saya berbicara terkait karya, kata kerjanya yakni berkarya, menurut KBBI berkarya artinya melakukan atau mengerjakan sesuatu hingga menghasilkan sesuatu yang menimbulkan kegunaan atau manfaat dan berarti bagi semua orang.

Kemudian begini, karya itu apakah muncul dengan sendirinya? Tidak. Butuh disini kemudian kerja keras dengan segenap tenaga, pikiran, finansial. Menikmati proses terwujudnya karya, itulah yang diinginkan, banyak dari kita yang mana ingin berkarya tapi nggak ingin melalui proses, takut pusing, takut gagal dan lain sebagainya. Generasi instan itu cukuplah mie kemasan yang bisa dirasakan enak di lidah dan mengenyangkan, tapi ingat, yang instan-instan itu biasanya tidak lebih baik dari pada yang membutuhkan waktu, konsistensi serta effort yang lebih banyak. 

Paragraf di atas ingin saya rincikan pembahasannya kemudian saya turunkan pada pembahasan terkait dedikasi. Dedikasi menurut KBBI adalah pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan suatu usaha atau tujuan mulia atau pengabdian. Saya rasa jika kata dedikasi ini benar-benar dihayati kemudian dilaksanakan, maka tumbuh pribadi profetik yang mengandung nilai humanitas, liberasi, dan transendensi sesuai pada Surah Ali-Imron ayat 110, humanitas atau memanusiakan manusia penafsiran dari ta` muruuna bil-ma`ruf... liberasi atau membebaskan manusia dari belenggu ketertindasan tan hauna `anil-munkar... transendensi atau percaya dan berlandaskan serta ikrar karena Allah Subhanahuwata`ala pada setiap hal tu`minuuna billah. Maka begini, sebagai kader IMM, Pak Djazman Al-Kindi sebagai pendiri IMM, beliau memiliki jiwa religius, jiwa militan, jiwa kepekaan tinggi terhadap lingkungan. Karya beliau yakni IMM ini yang sudah berkembang di Indonesia. Prof. Abdul Mu`ti sebagai sekretaris umum PP. Muhammadiyah beliau memiliki jiwa pengorbanan yang tinggi pula, salah satu karya buku beliau yakni “Guyon Maton: Lucu Bermutu ala Muhammadiyyin”. Kembali pada pembahasan dedikasi, bahwa keresahan dalam lingkup organisasi itu sendiri adalah berkurangnya optimisme pada setiap individu, sehingga jika lemahnya jiwa tersebut, dapat menjalar kepada individu-individu yang lain. Ingin saya katakan, bahwa Indonesia ini tidak akan terproklamirkan jika pejuang-pejuang kemerdekaan RI ini tidak memiliki dedikasi yang tinggi dalam jiwa dan fisiknya. KH. Ahmad Dahlan dan Hadratussyaikh Hasyim Asy-`Ari dengan jiwa amanah kedua tokoh ini lahirlah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, besarnya kedua ormas Islam berkat adanya dedikasi yang tinggi, pengorbanan yang tinggi, namun apakah dedikasi itu hal yang berat? Hal yang melelahkan? Tentu jika selaras dengan potensi ranah pribadi maka akan menikmatinya. Dengan ini butuh bekal, butuh basic dalam diri, minat apa yang bisa diusahakan dan bakat diri apa yang bisa dikembangkan. Menekankan lagi bahwa posisi yang seseorang jabat, itulah tempatnya, harus diperjuangkan semaksimalnya. Mengambil peran menjadi manusia yang berdedikasi terhadap tempat naungannya itulah yang diharapkan. Banyak orang yang memiliki salah pemikirannya, misalnya seseorang tidak ingin berkembang karena merasa nyaman, seharusnya berpikir bagaimana saya bisa menghadirkan kenyamanan, bukan mencari-cari kenyamanan. Jika orang-orang berpikiran salah seperti itu maka dipastikan tidak akan berkembang. 

Masuk pada ranah IMM, nalar berorganisasi dalam mewujudkan keprofesionalitas terkait administrasi. Nalar perkaderan dalam mewujudkan pribadi-pribadi penerus estafet dakwah gerakan IMM. Nalar intelektualitas dalam mewujudkan tujuan IMM dengan tradisi keilmuan IMM yakni diskusi, reading, writing, dokumentasi, dan pada era digital yakni bermedsos. Nalar bermasyarakat dalam mewujudkan kemajuan dari keterbelakangan masyarakat dengan nilai humanitas kader. Maka disini saya menekankan bahwa kader IMM itu harus paham akan hal ini, nalar-nalar ini baik untuk diri kita, senantiasa meminta kita untuk terus bergerak dan berpikir sebagai insan kamil. Tradisi ke-IMM-an sangat-sangat luntur, baik! jika memang zaman yang menuntun pergerakan ini berubah kulturnya, maka sama dengan kita telah mengkhianati pendiri ikatan dengan perilaku acuh atau tidak merevitalisasi tradisi yang sudah dilahirkan. Waktu dan kesempatan yang telah Allah Subhanahuwata`ala berikan ini tidak akan terulang lagi. Media dalam merekam jejak pemikiran, gagasan, ide, dan pergerakan saat ini sungguh luas, media tulis, media sosial dengan video, tulisan (blogspot, kumparan, medium, website, wattpad, buletin, majalah, penelitian), podcast (spotify & twitter spaces), ini dapat dimanfaatkan dengan baik, asalkan konsisten dan menghargai proses.

Maka melanjutkan bahwa keautentikan kader ikatan itu ketika mereka yang sudah memahami gimana sih harusnya kader itu berjuang di ikatan dalam menghadirkan kenyamanan, kesolidan, dan mewujudkan dengan gerakan atau aksi atas interpretasi nilai-nilai dasar ikatan yang menjadi pondasi awal dalam kader ikatan itu bergerak dan berkarya. 

Interpretasi perjuangan kader muda Muhammadiyah atau anak panah Muhammadiyah ini telah sampai pada satu taraf dimana fungsi pokoknya sebagai abdi masyarakat yang kemudian perlu meningkatkan pengabdiannya, memajuakan bangsa dan negara dengan terus menerus memperbaharui sikap mental dan cara bekerja sesuai dengan tanggung jawabnya sebagai intelegensia muslim, maka untuk itu IMM harus terus-menerus menyempurnakan dan menertibkan organisasi sehingga organisasi sebagai aparat  perjuangan mampu mengantarkan ikatan dalam mencapai tujuan perjuangan, kemudian membina setiap anggota ikatan sebagai kader yang takwa kepada Allah Subhanahuwata`ala dan sanggup memadukan intelektual dengan ideologi. Karena disini suksesnya perjuangan umat Islam banyak ditentukan oleh kesanggupan para intelegensianya untuk selalu berjuang dengan landasan ideologi Islam, kemudian yang terakhir membina setiap anggota ikatan dengan subjek aktivitas ikatan yang setia sepenuhnya kepada ideologi dan loyal kepada organisasi.

Telah banyak narasi yang digaungkan oleh kader petinggi ikatan, berkarya adalah tujuannya, problematika saat ini semakin sedikitnya kader ikatan yang berkarya dengan tangannya sendiri, banyak yang sibuk dengan hal-hal yang kurang penting pada level mahasiswa. Harapan nyata yang mana harusnya diwujudkan adalah pengkaderan yang menuntun kadernya dengan hasil sebuah karya. Contoh saja jika kader ikatan yang resah terhadap keadaan masyarakat kemudian mereka analisis masalahnya kemudian mereka tidak terjebak dengan keformalan program kerja yang harus sesuai dengan rancangan awal program kerja, saya lanjutkan ketika sudah menganalisis masalah kemudian menemukan penyebab dan dengan keintelektualannya dan jiwa mengabdi kepada Allah Subhanahuwata`ala maka mereka bergegas untuk mencari solusi, dan solusi-solusi yang ditawarkan tersebut saya sebut dengan karya. Kader IMM yang katanya punya potensi dalam bidang seni musik... ayolah kita jangan kalah dengan musisi atau penyanyi cover. Kader IMM yang katanya intelektualnya tinggi... ayolah kita susun sebuah buku atau susun satu persatu tulisan kita. Kader IMM yang katanya selalu memperjuangan atau berpihak kepada masyarakat... ayolah kita kritis. Keprogresifan kita telah ditunggu oleh umat, seperti dalam mars IMM “sejarah umat telah menuntut bukti”. Mari kita wujudkan bersama-sama dengan berprogres kearah kemajuan, kemajuan dalam berorganisasi, berkarya, berdedikasi, bermasyarakat, berideologi, dan bertakwa.

Pewaris tampuk pimpinan umat nanti dalam mars IMM, dalam mengaktualisasikannya saya katakan disini kita perlu jiwa dedikasi yang terpaut dengan IMM, kemudian di IMM tingkat komisariat ini kita belajar dalam mengamalkan nilai-nilai lewat karya dan semuanya berusaha untuk kita sifati dengan arah kemajuan. Semoga tercerahkan dan salam abadi perjuangan. 

Penulis: IMMawan Jermanda Ridwan Kurniaji

(Ketua Umum PK IMM Muhammad Abduh FAI UMS 2023)


Posting Komentar untuk "Dedikasi Berkarya Progresif, Jiwa Dedikasi Tinggi Melahirkan Karya Yang Berprogres Kearah Kemajuan"