Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Syuhada Yang Terlupakan dan Islamophobia

 

Syuhada Yang Terlupakan dan Islamophobia

Penulis : Immawan Jermanda Ridwan Kurniaji

(Ketua Umum PK IMM Muh Abduh 2023)

Prof. Haedar Nashir pernah mengatakan bahwa umat Islam saat ini dijebak untuk berperilaku antagonis. Islam adalah Rahmat, namun kita dijebak dalam suasana yang tidak berkepentingan. Ini harus hati-hati. Merdu Qur`an berlanggam jawa, menari Bali di atas sajadah masjid, perselingkuhan maulidya dan natalia, azan berkumandang di misa gereja, selawat nabi bersalip kayu, terompet bersarung Al-Qur'an, ada salip di dada santri, panorama aurat dilembaran hijab, sandal beralas kesucian, panggang kue berlipat Qur'an, aku salah? Aku tangkap. Ini merupakan bahasa sindiran. Dan itu Prof. Haedar Nashir menyatakan bahwa ada upaya menciptakan umat Islam di Indonesia mengalami situasi antagonis, selalu bersikap kasar itu terlihat dan terus terjadi pelecehan simbol agama Islam dgn berbagai modus yg ada. Kita dijebak sedemikian itu. Padahal itu sama sekali tidak paham sejarah. 

Bahwa republik ini berdiri berkat darah para syuhada. Pak Karno menyatakan jika “aku mati selimuti aku pakai bendera Muhammadiyah, tpi karna aku milik republik maka selimuti pakai bendera merah putih.” Jenderal Sudirman mengatakan “robek-robeklah badanku jasadku tetapi jantungku dibentengi merah putih akan tetapi hidup tetap menuntut bela siapa lawan yg aku hadapi (beliau tokoh guru Muhammadiyah). M. Natsir tanpa mosi integral beliau saat itu Indonesia tidak akan lahir menjadi negara kesatuan karena Indonesia akan menjadi negara negara serikat yg kecil-kecil. Juanda tokoh Muhammadiyah, pada deklarasi Juanda “kita tidak akan pernah memiliki kekuasaan laut yg sedemikian luas, kita menjadi negara maritim terbesar di muka bumi.” Semua mereka adalah para syuhada yg bersaksi asyhadu an laa ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadun Rasulullah.... Dari mana mereka mengatakan Islam tidak peduli dengan republik dari mana kita mengatakan anti kebhinnekaan. Saya katakan nalar mereka stagnan dan tak sanggup lagi berpikir. Sejarah pun dilupakan, umat Islam tidak boleh lupa sejarah. 
Ketika 7 kata di Pancasila "kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya." dan detik terakhir Ki Bagus Hadikusumo Ketua Umum PP Muhammadiyah saat itu. Dalam suasana batin yang begitu bergejolak, "baiklah 7 kata itu dihilangkan, maka harus diganti dgn Yang Maha Esa. Yang berarti adalah tauhid" umat Islam selama 30 tahun tidak pernah berusaha menafsirkan Pancasila dalam perspektif Al-Qur'an dan Sunnah. Saya tantang disini, mari kita bikin buku, syarah Pancasila fii dhooil qurani wassunnah. 
Mengapa umat Islam dinistakan sedemikian rupa. Inilah yg disebut deislamisasi. Prof. Haedar Nashir mengatakan "sangat gegabah jika orang mengatakan bahwa Indonesia belum teruji kebhinnekaannya, jika minoritas belum menjadi seorang presiden, lebih-lebih jika ujaran itu diungkapkan dalam nada angkuh. Seolah ukuran keindonesiaan ialah kedigdaya diri dalam singgasana kuasa, sebuah kesombongan yang dapat menjadi duri tajam ditubuh Republik Indonesia.”
Nahnu qoumun a'azzalallah bil islam, wa initta ghoyyna ghoyrol islam, azzanal azzanallah... Kita ini umat yang dimuliakan, dijayakan oleh Allah, jika anda mencari jalan selain Islam maka Allah hinakan kita. 
Kita ini mendirikan republik, para syuhada kita berdarah darah. Jangan sampai seperti yang dikhawatirkan oleh M. Natsir, kita menjadi mayoritas serasa minoritas. 
Bagi warga Muhammadiyah ingin saya katakan, pada tahun 2010 resmi diputuskan dalam tanfiz muktamar. Apa yang disebut oleh islamophobia "Muhammadiyah memandang bahwa islamophobia merupakan ancaman global yang dapat merusak hakikat peradaban dan keadaban manusia, bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia serta berbahaya bagi terwujudnya perdamaian dunia. Muhammadiyah menyerukan agar islamophobia dengan segala bentuk dan manifestasinya yang muncul di sebuah negara harus diakhiri.” 2010 Muhammadiyah mengatakan itu, 2016 baru diawali islamophobia, dengan cara yang sangat fulgar. Tapi umat harus paham. Islamophobia tidak beda dengan deideologisasi islam dalam masa ordebaru dan pada masa reformasi. Umat islam dibuat malu oleh umat Islam sendiri. 
Anda perhatikan sekarang, negara mana di barat yang mengatakan mereka kampiun daripada hak asasi manusia, tapi mereka berlaku paradoks semuanya. Tidak usahlah kau mengajarkan bagaimana Islam bertoleransi, cukuplah kawan-kawan yang mengantarkan para penganten menjadi saksi atas kebhinnekaan Republik Indonesia. Bukan Kebhinnekaan yang diajukan dalam proposal-proposal negara-negara, bukan pula akrobat retorika dalam seminar-seminar bergengsi internasional. Kebhinnekaan yang autentik adalah ketika ada orang Katholik menikah, disini ada jutaan masa yang berkumpul kemudian anda tulus ikhlas mengantarkannya, bukan ke masjid, tapi ke kathedral ke gereja. 
"Muhammadiyah mengatakan tidak perlu ada Islamophobia di negara yang berpenduduk muslim terbesar ini, karena watak umatnya toleran dan menjadi penyangga utama Indonesia, ketika arus Islam untuk memperoleh hak dan keadilan sungguh bukan primordialisme, aspirasi itu ekspresi wajar, lebih-lebih salurannya demokratis dan konstitusional. Jangan pandang Islam menjadi ancaman keindonesiaan dengan segenap pilarnya." (Prof. Haedar Nashir)

Posting Komentar untuk "Syuhada Yang Terlupakan dan Islamophobia"