Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hakikat Makna Isra' Mi'raj


Hakikat Makna Isra' Mi'raj

Penulis: IMMawan Jermanda Ridwan Kurniaji

(Ketua Umum PK IMM Muhammad Abduh 2023)

Tragedi sosial kita tidak akan pernah tau rencana Allah itu mana yang lebih awet, jangan-jangan kita takut pandemi mati kita takut kecelakaan, jangan-jangan takut mati kecelakaan tapi mati karena gempa bumi. Hal-hal seperti ini yang menjadikan kita bilang dan beryakinan hasbunallah wa ni`mal wakil hanya Allah yang tau semua urusan dan yang mencukupi kita hanya Allah. Kata akademisi menghadapi hal seperti ini dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman, penulis setuju dengan itu. Tapi lagi-lagi seluruh bangsa ini dengan tren dunia jika sedang tsunami semua orang ramai ketakutan kepada tsunami. Ilmuan berteori bahwa tsunami sekian tahun per-sekian tahun, nanti saat gempa juga begitu, nanti jika mudik ketakutan orang-orang itu karena macet, takut kecelakaan lalu lintas di jalan dsb. Sehingga sebelum pembahasan ini lebih jauh, pastikan bahwa tidak dalam wilayah kita mengatakan bahwa cincin ini lebih abadi dan awet daripada kertas. Tapi kita harus menjawab secara materi cincin itu lebih awet daripada kertas, tapi secara hakikat terserah yang mengendalikan dan yang punya rencana. Disini pentingnya mengkaji, karena dengan mengkaji kita akan kembali dalam mengenal hakikat Allah. Sebab itu di dalam surat Al-Isra` ayat pertama, 

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Tujuan akhirnya yakni linuriyahu min aayaatina. Bahwa isra mikraj itu hanya sebagian kecil yang diperlihatkan kepada kita betapa dahsyatnya kekuasaan Allah, betapa tidak terbatasnya kemampuan, kuasa, dan qudrah Allah. Dalam ayat tersebut dikatakan min aayaatina berarti hanya sebagian kecil dari ayat-ayat-Nya kata Allah. 

Lalu dalam surah Al-Kahfi diterangkan, ketika orang kagum dengan kisah ashabul kahfi yang bisa tidur selama 309 tahun (hijriah). Jika kita seorang ilmuan atau ahli, maka kita akan lebih kagum tentang nyamuk, andai kita seorang pakar dituntut untuk membuat nyamuk atau patungnya saja pasti tidak bisa. Nyamuk sekecil itu kemudian punya jantung, jantungnya punya urat, uratnya ada kuman, kumannya juga punya urat, maka dibayangkan saja tidak bisa. Sehingga ketika orang berdecak kagum dengan ashabul kahfi, firman Allah: 

اَمْ حَسِبْتَ اَنَّ اَصْحٰبَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيْمِ كَانُوْا مِنْ اٰيٰتِنَا عَجَبًا

“Apa kamu kagum tentang ashabul kahfi dan batu-batu yang dipahat di dalamnya, bukankah dalam keesaan Kami ada yang selalu menajubkan” artinya andaikan kita ilmuan tentang embriologi, hewan, kuman, mungkin tentang nyamuk itu lebih dahsyat ketimbang tidurnya ashabul kahfi yang 309 tahun (hijriah), karena kemampuan Allah menciptakan nyamuk yang super kecil yang nyamuk itu memiliki jantung dan urat yang lebih kecil, belum juga di dalam nyamuk itu menyimpan calon-calon keturunannya. 

Disini Allah mengingatkan kita:


اِنَّ اللّٰہَ لَا یَسۡتَحۡیٖۤ اَنۡ یَّضۡرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوۡضَۃً فَمَا فَوۡقَہَا

Allah tidak pernah malu jika dalam menunjukkan kuasa-Nya memberi contoh seekor nyamuk. Karena nyamuk andaikan kita ilmuan yang menekuni itu, strukturnya bisa melihat, bisa mencari pasangan hidupnya, dan bisa hamil, bisa menelur. Maka kita akan kagum sekagum-kagumnya betapa kita di hadapan kuasa Allah itu tidak siapa-siapa kemudian kita ikrar dengan sungguh-sungguh asyhadu an laa ilaha illallah bahwa tidak ada kekuasaan selain kekuasaan Allah. Lalu kenapa nyamuk itu tidak menjadi perhatian publik, ternyata kita dibodohi oleh kepentingan sendiri. Karena dari awal menganggap nyamuk itu problem/penyakit, maka bawaan kita cari obat untuk membunuh nyamuk itu sebagai problem, bukan sebagai ayaatun min aayaatillahi ta`ala sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah. Sehingga akhirnya manusia itu butuh yang namanya mukjizat dahsyat yang mudah dilihat dan dirasakan. 

Akhirnya kita tahu sejarah para nabi, nabi Musa minta mukjizat laut merah dibelah sehingga bangsa israil bisa lewat dan selamat dari kejaran raja Fir`aun, nabi Shaleh umatnya minta keajaiban yaitu unta keluar dari batu besar kemudian nabi Shaleh menuruti sehingga muncul unta dari batu besar. Begitu juga para nabi sebelum itu atau setelah itu selalu ada mukjizat yang memang manusia itu tidak mampu. Kata tidak mampu ini yang semua umat para nabi tidak seunggul umat nabi Muhammad Saw, karena kita sebagai umat Rasulullah Saw untuk merasa tidak mampu itu tidak harus hal-hal seperti membelah laut, tidak harus hal-hal seperti unta keluar dari batu, tidak harus hal-hal dahsyat tongkat nabi Musa menjadi ular besar yang menelan semua sihir-sihirnya Fir`aun. Kita sebagai umatnya nabi Muhammad Saw selalu setiap hari bilang innallaha `alaa kulli syai`in qodir hanya Allah yang mampu atas segala hal. 

Melihat nyamuk kita iman artinya melihat hal-hal kecil, karena kita ketika melihat nyamuk pasti kita “kok hebat nyamuk, tanpa rapat... tanpa ada gaji bisa populasinya dijaga. Padahal musuhnya banyak, musuhnya manusia yang katanya mahkluk paling cerdas di dunia, tapi tidak bisa menghabisi nyamuk. Jadi andaikan kita pakai ayat tadi innallaha laa yastahyii an yadhriba matsalaa maa ba’uudhah... Allah itu tidak pernah malu untuk menunjukkan kekuasaan-Nya dengan cukup misalnya kita belajar tentang nyamuk. Sudah sekecil itu, punya mata kemudian mata nyamuk punya syaraf/urat lalu sekecil apa? Lalu jika nyamuk itu kecil maka kumannya itu seperti apa? Organnya tubuhnya seberapa? Ini sudah kedahsyatan yang luar biasa yang menjadikan kita iman innallaha `alaa kulli syai`in qodir... Allah sendiri yang Maha Kuasa.

Sehingga kembali ke peristiwa isra mikraj yang dahsyatpun bagi Allah masih dikatakan Linuriyahu min aayaatina... hanya untuk menunjukkan dari sebagian ayat-ayat Allah bukan mewakili seluruh kekuasaan Allah. Lalu sebelum jauh kita belajar. Kehebatan nabi Muhammad Saw diantaranya karena mukjizat tongkat pada akhirnya diletakkan di museum, orang melihat untuk gaya-gayaan pergi ke Turki untuk melihat di museum dan setelah melihat kadang-kadang kita ragu apakah tongkat ini betul, kalau misalnya saya yakin bisa dipakai lagi atau tidak. Jadi hal-hal yang mengundang pertanyaan sekaligus keraguan. Beda dengan ajaran nabi Muhammad Saw, ketika nabi Saw cerita betapa kekuasaan Allah itu super dahsyat buktinya ada pada nyamuk tadi, seperti apa susahnya menciptakan nyamuk yang mempunyai tubuh kecil kemudian mempunyai organ yang lebih kecil tentunya kemudian ada kumannya yang kuman itu juga punya organ yang lebih kecil lagi. Kita tidak perlu ke Turki, kita hidup di kampung bisa menyaksikan annallaha `alaa kulli syai`in qodir... bahwa Allah itu Maha Kuasa. Nah maka mengkaji bersama seperti ini, supaya orang itu ikrar dengan begitu sungguh-sungguh bahwa kita ini ciptaan Allah.

Maka logika itu dapat memakai analogi, salah jika anda mengatakan bahwa cincin ini lebih kuat daripada kertas. Yang benar adalah secara materi cincin lebih kuat daripada kertas, tapi tentang ketahanannya sampai kapan itu hak dari yang memilikinya. Bisa saja saya punya rencana besok cincin saya luluhkan dan dihancurkan kemudian yang kertas kemudian saya simpan. Seperti apa dinosaurus yang tinggi besar dan kuat itu punah namun ayam yang lemah itu sampai sekarang masih. Itu karena Allah menghendaki dinosaurus punah sedangkan ayam tidak. Seperti apa nyamuk yang musuhnya orang seluruh dunia, namun sampai saat ini masih hidup dan ada. Apa kita perlu konsultasi dengan nyamuk “gimana ini resepnya apa?”.

Nah kemudian kenapa ada peristiwa isra wal mikraj. Nabi Muhammad Saw ketika mikraj, sebetulnya kalimat-kalimat dalam salat. Pertama nabi Muhammad Saw datang menghadap Allah, sebetulnya malaikat Jibril As itu hendak ikut menghadap karena nabi Saw pernah bilang “wahai Jibril jangan tinggalkan saya sendiri” lalu kata malaikat Jibril “sudah tempat saya cukup sampai disini saja.” Nabi Saw berkata “tidak, kamu harus menemani saya” ketika nabi Saw memaksa agar Jibril As menemani nabi Saw, dibeberapa riwayat dijelaskan nabi Saw tidak kuat sehingga pingsan dan tidak sadar kemudian ada ayat wa maa kinna lakuma qoumun ma`lum... kita memiliki kedudukan yang kedudukannya tidak mencapai hal itu. Kemudian nabi Saw masuk ke wilayah itu dan berkata “attahiyyatu lillah wassholawatu wa-athoyyibah”  yang artinya semua penghormatan kepada Allah dan kebaikan yang suci itu milik Allah Swt. Lalu Allah menjawab “Assalamu`alaika ya ayyuhan-nabiyyu wa rohmatullahi wabarakaatuh”  bahwa kamu Muhammad, mendapat salam dan penghormatan dari Saya (Allah). Kemudian nabi Saw sebagai hamba Allah yang tidak egois atau tidak ingin nikmat dirasakan sendiri, tidak ingin jika senang beliau sendiri yang merasakan beliau berkata “assalamu `alaina wa `alaa `ibaadillahi as-sholihin” ya Allah saya meminta bahwa keselamatan itu tidak hanya milik saya (Muhammad) tetapi milik siapa saja yang saleh. Setelah itu para malaikat melihat kebaikan dan keinginannya yang luar biasa baiknya nabi Saw yang seperti ini kepada semua orang, lalu ramai-ramai para malaikat bersaksi “asyhadu an laa ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadur rasulullah.” 

Catatatannya apa disini? Bahwa ternyata kesaksian tentang syahadat atau kesaksian itu dimulai pada rasa tidak egois, merasa bahwa rahmat ini harus dirasakan pada semua orang wa maa arsalnaka illa rahmatallil `aalamiin... rahmat ini harus dirasakan oleh banyak orang. 

Kita mengerti bahwa Islam melarang narkoba, memang narkoba itu mengganggu karena banyak insiden kecelakaan itu karena mengonsumsi narkoba. Kemudian pembunuhan yang sadis, rata-rata juga karena narkoba. Sehingga Islam keras sekali mengharamkan narkoba, yang mana di negara Indonesia ini ditangani oleh BNN (Badan Narkotika Nasional) yang secara serius menangani narkoba. Keputusan Islam melarang narkoba itu yang luar biasa, yang menjadi nilai dan dampak positif bagi semua. Begitu juga keputusan Islam melarang zina, perbudakan, penipuan. Kemudian Islam mendukung misalnya gerakan menikah, gerakan adil, gerakan keseimbangan, dan gerakan humanitas. Sehingga agama ini akan dinikmati atau dirasakan oleh siapa saja karena ajarannya. Lalu kenikmatan agama Islam ini mudah dirasakan, menurut nabi Saw yaitu dengan mendirikan salat. Jika orang pusing menghadapi banyak hal, pasti keluar masuk lalu tanya kepada istrinya “kapan waktunya salat?”, dahulu jika Bilal bin Rabah datang kemudian mengetuk pintu rumah nabi Saw dan mengatakan “ya Rasulullah sekarang waktunya salat” kemudian nabi Saw itu membahasakan salat “arikhna ya Bilal... tolonglah bikin nyaman saya dengan salat. Jika kita misalnya ketua BEM atau seorang dosen seperti apa asiknya kita jika menghadap, bercengkrama, dan ngobrol dengan rektor. 


Salat itu media dimana kita itu asik dengan Allah Swt, jika kita dapat asik saat menghadap manusia, maka kita malu jika merasa tidak nikmat saat salat. Sehingga orang dahulu dalam sejarah, umat Islam itu jika mendirikan salat dengan tidak lama itu harus diperintah. Dulu para nabi dan sahabat itu mendirikan salat dengan durasi yang lama. Sehingga nabi Saw turun tangan dan mengatakan “wahai para sahabatku, jika jadi imam salatnya jangan lama-lama” karena memang orang dahulu itu penikmat salat, sehingga agar cepat salatnya itu menunggu perintah “kalau jadi imam salatnya jangan lama-lama, kasian makmumnya.” Namun era saat ini alhamdulillah tanpa dilarang sudah cepat semua salatnya. Normalnya orang yang sedang mendirikan salat itu tidak ingin mengakhiri, karena bertemu Dzat yang kita cintai. Kita kalau bertemu orang yang kita cintai pasti tidak bisa mengakhiri, misal anak muda jika bertemu dengan kekasihnya dia tidak ingin mengakhirinya. Salat ini bertemu Allah yang Maha Terpuji namun saat salat cepat ingin selesai, jadi zaman ini sudah agak aneh. Maka orang mendirikan salat itu tidak ingin mengakhiri dan itu hal yang normal, dahulu Umar bin Khattab itu ditikam dengan panah yang ada kailnya, lalu Umar bin Khattab meminta menarik panah itu saat saya salat, kemudian ditarik dan tidak bergerak sedikitpun karena menikmati salatnya.

Maka kesimpulannya adalah peristiwa isra wal mikraj dapat kita artikan sebagai memaknai ketakwaan kepada Allah dengan salat dan peduli terhadap sosial kemasyarakatan. Dan kemudian mengingatkan kita kepada peristiwa yang luar biasa pada masa lalu yang perlu kita ambil hikmahnya. 

Posting Komentar untuk "Hakikat Makna Isra' Mi'raj "