Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pentingnya Lingkaran Kekuatan Perempuan alias Women Support Women

 



“Pentingnya Lingkaran Kekuatan Perempuan alias Women Support Women .

 Tulisan ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya saling mendukung dan menyebarkan hal-hal positif terutama kepada sesama perempuan. Jika kita berbicara tentang perempuan, apa itu perempuan? (Dalam bahasa Sansekerta kata perempuan diambil dari kata per + empu + an. Per, memiliki arti mahluk, dan empu, yang berarti mulia, tuan, mahir.) dan Kaum perempuan disebut pula dengan kaum hawa. Nama ini terambil dari nama ibunda manusia (Siti Hawa-istri Nabi Adam as). Secara fisik (kodrati), Mereka mempunyai perasaan yang lemah lembut dan halus. Perempuan juga lebih banyak menggunakan pertimbangan emosi dan perasaan dari pada akal pikirannya. Perempuan adalah lambang kesejukan, kelembutan dan cinta kasih.  Perempuan juga  termasuk makhluk yang butuh support system, baik dari keluarga, pasangan, teman sesamanya, dan lain sebagainya. Mereka adalah makhluk yang butuh didengar, didukung, dihargai dan juga butuh validasi, makanya dari itu support termasuk berperan penting dalam hidup seorang perempuan.

Women supporting women adalah lingkup pertemanan atau hubungan kekerabatan antara perempuan satu dengan yang lain yang selalu memberi support positif atau mendukung dalam kebaikan

Apasih faktor yang menyebabkan minimnya women supporting women?

    Menurut Alvieni Angelica, M.Psi., Psikolog, yang juga pendiri Enlightmind, menurutnya ada istilah yang di namakan kompetisi intraseksual, yaitu kompetisi antar sesama (perempuan dengan perempuan). Hal ini biasanya di latar belakangi dengan tujuan untuk mendapatkan perhatian lebih dari orang sekitar . Dan mengapa lebih cenderung perempuan pada hal ini? Karena perempuan lebih mengekspresikan perasaannya secara verbal, jadi akan lebih terlihat jelas persaingan satu dengan yang lain. Ada juga faktor lain yang menyebabkan mengapa perempuan lebih condong untuk bersaing, yakni karena latar belakang keluarga dan lingkungan yang selalu membanding-bandingkan atau melabeli seorang perempuan pada kebiasaan kebiasaan tertentu. Jadi, karena dari semasa kecil sering di bandingkan, saat bertumbuh dewasa pun menjadi pribadi yang selalu ingin bersaing. 

    Apa akibatnya? Akibat yang pertama pada diri sendiri, akan selalu merasa kurang dan cemas akan segala yang ada di dalam dirinya. Akibat untuk orang lain yakni, menjatuhkan sesama, men-judge dengan semena-mena, merundung tanpa sebab, bullying, dan lain sebagainya. Melihat faktor ini, dapat kita jadikan pelajaran sebagai perempuan yang akan menjadi seorang ibu, mungkin hal ini terlihat sepele, namun dampaknya akan sangat besar bagi anak perempuan di kemudian hari. 

Kenapa harus mendukung sesama perempuan?

   Sebelum itu, akhir-akhir ini cukup meruak kembali mengenai banyaknya diskursus kesetaraangender yang disebabkan karena banyaknya kasus di Indonesia yang melatar belakangi ketidak setaraan, membuat beberapa orang bertindak untuk speak up dan beraksi. Isu ini banyak membahas terkait partisipasi perempuan dalam berbagai hal yang mungkin selama ini masih terbatas oleh sistem dalam budaya patriarki. Ya, bisa di sebut juga para perempuan ini menyuarakan gerakan emansipasi. 

   Nah, fakta di lapangan banyak perempuan yang berkobar mengenai emansipasi, padahal kepada sesama perempuan masih saling berkompetisi. Women supporting women bisa menjadi hal yang cukup jarang kita temukan, karena kebanyakan para perempuan justru kurang simpati bahkan saling menjatuhkan. Perempuan sering kali memberontak jika di kotakan pada stereotip tertentu, padahal yang mengotakan pada stereotip tertentu itu dari perempuan satu ke perempuan yang lain. Tidak sedikit perempuan yang menjadi aktivis namun di bilang mencari perhatian atau pencitraan publik semata, perempuan yang  terlalu rajin belajarnya  dikatakan ambis padahal dia benar benar mengejar cita cita yang ada, bukannya bertepuk tangan atas kesuksesan tapi malah menganggap saingan, perempuan yang memiliki pemikiran kritis justru malah ditatap sinis, perempuan yang menggunakan make-up dianggap mengedepankan beauty previllage, dan lain sebagainya.

      Hal-hal tersebut justru dilontarkan dari perempuan-perempuan itu sendiri. Contoh lain seperti victim blaming atau menyalahkan korban atas apa yang telah terjadi padanya. Pada pelecehan seksual, Kesalahan ini biasanya serta merta dijatuhkan sepenuhnya pada seorang perempuan “Kalo aku jadi kamu sih aku bakal teriak.” “Kalo aku jadi kamu sih aku bakal langsung lawan.” dan lain sebagainya. Padahal para perempuan seharusnya bisa menjadi pundak untuk saling menguatkan, bukannya malah semakin menjatuhkan ke dalam keterpurukan. Apa lagi di zaman sekarang yang canggih akan teknologi dengan beragam media sosialnya, lagi-lagi semakin minimnya dukungan antar sesama perempuan. Hate comment yang bodyshamed people, atau disebut juga bullying terhadap keadaan fisik seseorang yang bertebaran dimana-mana dan mirisnya kebanyakan berasal dari jari-jemari perempuan.

“Cantik kebantu filter doang.”

“Ternyata ga secantik yang ada di media sosial ya.”

“Kamu kalo gendutan pasti cantik.”

“Kamu kalo kurus pasti cantik.”

“Ternyata ga semulus yang di foto ya.”

“Make-up nya terlalu menor, ga berani natural ya?.”

    Bagaimana bisa kita menjadi perempuan yang kuat jika tidak menguatkan perempuan lainnya? Perempuan yang ber make-up atau tidak, yang  putih atau coklat, yang kurus atau gemuk, kita tetaplah perempuan. Kita semua tau akan perempuan adalah makhluk yang perasa, seharusnya kita sesama perempuan menjaga perasaan satu sama lain. Jika memang kita berniat untuk menasehati, coba kita mulai dengan kata-kata yang baik dan lebih berhati-hati. Seperti halnya dari


pada kita bicara “Kamu kalo gendutan pasti bakal lebih cantik” mungkin bisa diganti dengan “Jangan lupa makan ya! Berat badan juga ngaruh tau buat kesehatan” atau bisa jadi dengan kata-kata pendekatan seperti “Coba deh minum vitamin ini, katanya bisa bikin tubuh jadi lebih sehat loh” dan masih banyak cara lainnya. 

Berarti perempuan yang melakukan kejahatan juga harus kita support?

     Kembali lagi kita pada tujuan awal, yakni mendukung dalam hal-hal positif. Kata supporting disini diartikan bukan hanya “mendukung” bisa juga dengan “mengajak”. Contoh nya, Disini kita kerucutkan lagi, bila di dalam ranah agama. Dari pada berbicara “Kamu islam KTP ya? Kok ga pake hijab, hina banget kamu, bla bla bla”, coba bisa diganti dengan

 “Rambut kamu bagus banget tau, tapi apa ga sayang kalo kena debu di jalanan? Coba tutupin pake hijab yuk, pasti tambah cantik”, dan lain sebagainya. Hal-hal ini bisa dibilang cukup simple, tapi pengaplikasiannya sangat sulit ditemukan di sekitar kita. Dan perlu di ingat kembali, kita sebagai perempuan punya pilihan masing-masing, tidak perlu pilihan itu di perlombakan, bukannya akan lebih indah jika kita berbagi cerita atas pilihan kita dan saling mendukung?

Lalu bagaimana cara untuk menanggulangi minimnya women supporting women?

Yang Pertama, yakni menciptakan kultur atau lingkungan yang saling mendukung, dengan apa? pertama di mulai dari diri kita sendiri. Nilai diri kita ini sebagai sosok yang unik dan tidak perlu membandingkan dengan orang lain. Selalu tanamkan prinsip bahwa orang memiliki kelebihan masing-masing, mengutip perkataan mba  Najwa Shihab "Cantik itu yang memiliki kemurahan hati dan empati, perempuan bukan pemandangan, kecantikan bukan untuk di perlombakan". 

Yang kedua, menanamkan sifat rendah hati untuk mau belajar dari setiap orang dan menghargai kesuksesan orang, jangan selalu merasa tersaingi, kita sesama perempuan akan lebih indah jika berjalan bersama dengan keunikan masing masing tanpa bersaing.

Yang ketiga, sebelumnya telah kita bahas di atas yakni menasehati dengan sifat yang membangun secara asertif tanpa disertai emosi, cibiran, sindiran dan lain sebagainya. 

Yang keempat, point terpenting yakni membangun kesadaran bersama, mengapa harus membangun solidaritas? , seberapa penting solidaritas terhadap sesama?, bagaimana kita harus saling mensupport?, dan lain sebagainya. Untuk bisa keluar dari label-label stereotip/ budaya patriarkis yang tanpa kita sadari sudah tertanam pada diri kita, maka dari itu butuh yang namanya kebersamaan, dukungan agar dapat mencapai hal tersebut. Lalu bagaimana jika tetap ada perempuan-perempuan di luar sana tidak mau solid? Apakah kita harus menghukuminya? Menjudgenya? Jawabannya adalah tidak. Rangkul, ajak, lakukan pendekatan, ikut sertakan dalam percakapan atau diskusi yang menumbuhkan kesadaran.

    Untuk para perempuan dimana pun kalian berada, kita tidak perlu bersaing cukup dengan kata saling. Buang jauh-jauh rasa ingin unggul dari orang lain, kita semua unik dengan personality masing-masing.          

   Untuk para perempuan, senyum mu harus tetap terus tersuguh, boleh jatuh tapi jangan sampai rapuh, bagaimanapun jalannya, harus tetap kita tempuh. Jangan ragu untuk setiap hal baik yang kalian lakukan, fokus pada kelebihan, jadikan kekurangan sebagai hal unik yang membedakan. Apresiasi setiap pencapaian dan berani ambil keputusan.

   Kita mempunyai mimpi yang layak di kejar, tidak perlu mendengarkan cibiran orang yang tidak tahu bagaimana sulitnya perahu kita untuk tetap terus berlayar. Kita adalah makhluk yang kuat dan hebat, jangan lupa untuk tetap semangat ya!.

 

   Mengutip perkataan imam fudhail bin iyadh ‘’isilah hari-hari yang kamu jalani saat ini dengan kebaikan,karena setiap kebaikan yang kamu lakukan di sisa usiamu saat ini bisa menutupi keburukan kamu di masa lalu. Dan jika kamu diberikan kesempatan usia oleh allah tapi kamu tidak menggunakan waktu itu untuk mengisi kebaikan, maka kamu akan akan ditenggalamkan oleh alah  dalam keburukan.’’

#BerOpini

 

26 November 2022 – Syakira Maghituf

Posting Komentar untuk "Pentingnya Lingkaran Kekuatan Perempuan alias Women Support Women"