Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kegundahan Immawati

 

Kegundahan Immawati

Mutaqillah Ahmad – Ketua Umum PK IMM Muh. Abduh 2022

 

        Immawan dan immawati adalah sebutan untuk  anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Organisasi otonom Muhammadiyah yang bergerak pada ranah kemahasiswaan, kemasyarakatan, dan keagamaan. Dinamika dan lembaran kisah tertuang di ikatan yang bernuansa merah maroon ini.

        Tujuan IMM yang begitu mulia, “Mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah” nampaknnya perlu di breakdown pada gerakan-gerakan praktis dan membumi sehingga mampu diterjemahkan dengan mudah oleh immawan dan immawati.

        Salah satu gerakannya yaitu mengusahakan perempuan berkemajuan yang dikembangkan pada bidang immawati. Salah satu konsentrasi IMM membangun jati diri perempuan cerdas, mencerahkan, dan progresif.  Wadah khusus ini menempa immawati dan pemahaman tentang immawati diarahkan pada terpenuhinya hak-hak dan menyadarkan kewajiabannya sebagai manusia yang setara dengan laki-laki.

        Pada tataran realita yang diamati penulis, ada beberapa kejadian yang menjadi persoalan dan kegundahan immawati yang menjadi hambatan-hambatan menjadi perempuan berkemajuan. Pertama,  Bermain Perasaan. Berkomunikasi tentunya menjadi hal utama dalam sebuah organisasi. Perbedaan latarbelakang seseorang dengan pembawaan ciri khasnya masing-masing menyebabkan miss persepsi. Kegumulan berpikir hingga overthingking melahirkan kesimpulan-kesimpulan instan sekaligus liar tanpa tabayyun dan kroscek terlebih dahulu. Hal tersebut berdampak pada kinerja organisasi serta melahirkan masalah-masalah baru.

        Persoalan perasaan atau prasangka sebenarnya sudah di singgung dalam Alquran. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Hujuraat ayat 12 yang berbunya :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”

        Lafadz الظن berasal dari bahasa Arab yang berarti duga, sangka, kira-kira. Disebutkan dalam Alquran sebanyak 67 kali dalam 55 ayat dan 32 surat yang berbeda dengan beragam bentuk. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasisan Alquran (2017) bahwa menjauhi prasangka buruk terhadap manusia maksudnya prasangka buruk yang tidak memiliki indikator memadai, sebab sesungguhnya sebagian dari dugaan tersebut dosa.

        Pengelolaan persepsi, prasangka, dan dugaan yang hadir pada pikiran dengan mengindahkan prasangka baik (husnudzon) diikuti kroscek (tabayyun) menjadi solusi yang ditawarkan sehingga seorang immawati mampu memanajemen perasaan agar tidak terjerumus pada penjara pikiran.

        Kedua, terlalu pemalu. Setiap manusia memiliki rasa malu. Suatu emosi psikologis yang muncul menghalangi dan memotivasi individu untuk membatalkan perilaku yang tidak sesuai dengan norma. Hadirnya rasa malu sebenarnya  baik  dan termasuk bagian dari cabang keimanan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

        Persoalannya, malu yang hadir pada diri immawati tergolong tercela karena rasa malu itu menghalangi berbuat kebaikan dan mengungkapkan kebaikan, bukan malu yang menghalangi berbuat keburukan. Immawati yang dididik menjadi agen of change serta meniti membangun peradaban terhalang berkembang karena rasa malu yang tidak terkontrol dengan baik. “kamu siap jadi moderator ya?” “ah nggak dulu mas, malu”, “tolong nanti antarkan surat ke pak dekan ya” “ngga berani mas, malu”, “bulan depan jadi pemantik diskusi keperempuanan siap ya?”, “malu mas, nggak berani”. Sekelumit keluhan menggunakan dalih “malu” menjadi tameng jitu untuk menolak tawaran dalam sebuah organisasi.

        Bidang immawati hadir di tengah-tengah IMM diharapkan mampu memecahkan masalah klasik. Memanajemen rasa malu agar immawati berani ambil bagian dalam hal-hal kebaikan. Mendobrak norma buruk yang berkembang bagi perempuan. Semisal kegiatan pelatihan bidang immawati Abduh “Gerakan Immawati Berbicara”. Melatih speak up dihadapan khalayak guna membentuk mental serta mengontrol rasa malu yang hadir.

        Ketiga, suka mengekor. Organisasi tentunya tak jarang mengadakan rapat dan koordinasi untuk seksesnya sebuah acara. Pergulatan ide-ide gagasan di sebuah forum adalah suasana ideal guna menghasilkan hasil mufakat yang berkualitas. Namun na’asnya, terkadang immawati hanya mampu menyimak dinamika yang terjadi. Kurang mampu  berkontribusi menghibahkann pikiran, menolak suatu gagasan, dan mengkritisi pendapat yang tidak sesuai baginya.

        Immawati selayaknya menjadi perempuan anggun dalam moral disertai unggul dalam intelektual sebagaimana semboyan IMM. Mampu berargumen di khalayak umum, menawarkan gagasan baru dan terobosan. Berani berbeda, kokoh terhadap prinsip, dan kuat memegang bendera kebenaran.

        Bila immawati telah mampu mengontrol perasaan, rasa malu, dan mampu berdikari dalam berpikir, maka kemajuan perempuan di dalam ikatan bahkan persyarikatan, kebangsaan dan keumatan akan mampu terwujud atas izin Allah.

        Gerakan-gerakan kecil inilah justru perlu dirawat sebagai bentuk usaha mencapai tujuan IMM yang telah terpatri dalam diri seorang immawati. Abadi Perjuangan! Hidup Perempuan yang melawan! Billahi fii sabilil haq, fastabiqul khairat!

  

Posting Komentar untuk "Kegundahan Immawati"