Fitnatan wa Rahmatan min Mar`ah
Fitnatan wa Rahmatan min Mar`ah
By: Jermanda
Ridwan Kurniaji
“Bu, saya
pamit mondok dulu (tangan ibu diciumnya). Bu, saya mau pergi kuliah dulu. Bu,
alhamdulillah saya besok saya wisuda datang sekeluarga ya. Bu, alhamdulillah
saya udah punya penghasilan tetap sendiri dan uangnya saya sisihkan juga untuk
nabung. Kemudian ... Bu, saya izin mau melamar dia, gimana bu?” Lalu Ibu
merasakan jika diriku akan memiliki hati yang lain selain Ibu.
Bersyukurnya
seorang anak atas kenikmatan yang Allah beri, melalui perempuan hebat-Nya.
“Rabbighfirli waliwalidayya ...” aku panjatkan kepada-Nya, memohon kepada-Nya
“Warhamhumakama Rabbaya Nishaghira, Aamiin.” Ya Allah sungguh tidak perlu aku
mengingat jasa-jasa kedua orang tuaku terlebih lagi ibuku, apakah aku harus
mengingat jasanya dulu sehingga aku mau mendoakan mereka? Gimana sih hatiku
ini? Apa sedang sakit?.
Apakah
pernah mendengar kisah salah satu sahabat Nabi? Ketika ia wafat penduduk langit
ikut datang untuk mulosoro (mengurus sampai selesai) jenazahnya, apa
yang terjadi sebetulnya hingga penduduk langit yang begitu dekat dengan Allah
mengenalinya. Uwais Al-Qarni dari Yaman suku Qaran Kabilah Murad adalah
penduduk langit bersama dengan para malaikat yang memiliki kemuliaan. Nabi
Muhammad sang Habibullah menganjurkan kepada para sahabatnya untuk meminta
panjatan doa kepada Uwais Al-Qarni, sabda Nabi Saw riwayat Imam Muslim “...Suruhlah
dia (Uwais Al-Qarni) untuk memohonkan ampun untuk kalian." Hingga Umar
bin Khattab r.a mendapatinya dan memintanya untuk berdoa kepada Allah, Uwais
langsung mendoakannya. Mari direnungkan, seorang Nabi Muhammad sang Khaira
Khalqillah menganjurkan bahkan memerintakan para sahabatnya yang memiliki
derajat tinggi di sisi Allah untuk meminta Uwais Al-Qarni untuk mendoakan dan
memohonkan ampunan, maka artinya Uwais Al-Qarni ini memiliki kesalehan istimewa
atas penghambaannya kepada Allah Yang Agung, ia bukan manusia biasa ... manusia
yang memiliki fisik dan hati yang terpaut dengan Allah, begitu istimewanya ia. Wahai
Allah, apa sebab hingga Uwais Al-Qarni diberi kepercayaan oleh Rasulullah Saw? Sebabnya
adalah seorang perempuan, ya! seorang ibunya yang sudah tua renta. Uwais
Al-Qarni tulus merawat dan menuruti keinginan ibunya untuk pergi haji, hingga
pada perjuangannya ia membeli seekor anak lembu kemudian ia gendong lembu itu
naik turun bukit sampai lembu itu besar seberat 100 kg selama 8 bulan. Wahai
Allah terenyuh sudah hati saya. Lalu ketika Uwais sudah merasa kuat ototnya dan
begitu musim haji tiba. Ia kemudian menggendong ibunya dari Yaman ke Mekkah
dengan jarak 1.119 km untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci. Wahai Allah
sungguh indah atas contoh yang telah Engkau takdirkan, disini kami belajar
bahwa yang pertama, kita dianjurkan untuk meminta doa dari orang saleh. Kedua,
begitu pentingnya ibadah haji bagi umat muslim walau itu berat. Dan yang
ketiga, seorang perempuan (ibu) salah satu sebab seseorang memiliki kedudukan
tinggi di sisi Allah. Marilah kita muliakan perempuan, muliakan saudara
perempuan, anak perempuan, istri kita, dan ibu. Kita tarik kembali, atas dasar
apa Uwais Al-Qarni memuliakan ibunya? Yakni atas dasar cinta kasih sayang.
Semoga kita bisa mengikuti dan meneladani kisah ini.
Ada
cerita dari seorang laki-laki dan perempuan yang masing-masing individunya taat
kepada Allah. Dua orang itu sudah ada kehendak untuk menikah dengan segera.
Suatu waktu mereka ingin menjadwalkan untuk melihat calon rumah yang akan
dibeli ketika sudah menikah nanti, namun mereka tidak ingin melihat-lihat rumah
itu hanya berduaan saja, mereka takut ada fitnah dan takut terjadi kekhilafan.
Maka mereka bersepakat untuk masing-masing dari mereka mengajak satu temannya.
Yang laki-laki mengajak satu teman laki-lakinya dan yang perempuan mengajak
satu teman perempuannya. Hingga datang waktunya dengan kondisi yang sedang
hujan deras, laki-laki itu gagal mengajak teman laki-lakinya karena ada
halangan, kemudian laki-laki itu tetap pergi ke lokasi karena berpikir yang
perempuan pasti membawa teman perempuannya. Dan ternyata yang perempuan itu
juga gagal mengajak teman perempuannya karena ada keadaan yang membuat tidak
bisa ikut, dan perempuan itu tetap berangkat ke lokasi karena juga berpikir
jika yang laki-laki pasti membawa teman laki-lakinya, subhanallah. Bertemulah
laki-laki dan perempuan yang sudah ada niatan untuk menikah itu di lokasi rumah
yang akan dibelinya nanti, kemudian masing-masing bertanya, “Loh temanmu dimana
ya Ukhti?” begitu juga yang perempuan juga bertanya demikian kepada laki-laki
itu. Kemudian mereka tetap melanjutkan untuk masuk rumah itu, namun mereka
berusaha untuk saling menjaga dengan bersepakat untuk melihat bagian dalam
rumahnya dalam keadaan masing-masing berpisah, yang perempuan melihat dapur dan
yang laki-laki di ruangan lain. Dapur dalam keadaan lantai basah karena atapnya
bocor, lalu terpelesetlah perempuan itu dengan berteriak, hingga laki-laki itu
mendengar dan ia bergegas ke dapur untuk menolong perempuan itu yang kakinya
terluka dan karena di luar masih hujan deras sehingga sangat sepi keadaannya,
laki-laki itu menggendong membawanya ke salah satu ruangan kamar. Dengan niatan
mengobati kaki perempuan yang terluka itu, laki-laki itu memegang dengan
mengolesi obat urut dan pada akhirnya mereka berdua khilaf, na`udzubillah
min dzalik. Kemudian mereka sadar bahwa mereka berdua sudah terlanjur
melakukan perbuatan yang zalim. Mereka keluar rumah dan melihat hujan sudah
reda, masing-masing mereka pulang dan pada perjalanan pulang laki-laki itu
mengalami kecelakaan di jalan sehingga meninggal dunia.
Demikianlah
setiap makhluk ciptaan Allah, bisa menjadi fitnah dan rahmat bagi
masing-masingnya, begitupula perempuan yang dapat menjadi surga baginya atau
kesengsaraan baginya. Wallahu a`lam bi shawwab.
Posting Komentar untuk "Fitnatan wa Rahmatan min Mar`ah"