🌔 SYEKH ABDUL QADIR JAILANI; BERAGAMA DENGAN KEBODOHAN LEBIH BANYAK MAFSADAT
🌔 *SYEKH ABDUL QADIR JAILANI; BERAGAMA DENGAN KEBODOHAN LEBIH BANYAK MAFSADAT*
👤 *Syekh Abdul Qadir Jailani* lahir di Jailan, selatan laut Kaspia (sekarang menjadi Provinsi Mazandaran), Iran, pada 470 H/1077 M, dari pasangan Abu Salih dan Umm Khair Fatima. Konon, dia adalah keturunan Nabi Muhammad dari cucu-cucunya, Hasan dan Husein. Meskipun belum ada yang secara meyakinkan menjelaskan kebenaran cerita tersebut. Ayahnya diyakini keturunan dari Hasan, sedangkan ibunya dari Husein. Sebagian besar usianya dihabiskan untuk belajar. Abdul Qadir baru menikah pada usia 50 tahun.
☪️ *Menjaga Akidah dengan Tasawuf ‘Amali*
Syekh Abdul Qadir dikenal sebagai penjaga akidah. Namun, ia juga dikenal sebagai tokoh tasawuf. Ia produktif dalam menuliskan karya. Sekitar 17 kitab sudah ditulisnya. Dua di antaranya yang paling utama adalah al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq dan Futuh al-Ghaib. Dua karya inilah yang mencerminkan pikiran utamanya: akidah dan tasawuf. Abdul Qadir Jailani adalah ulama madzhab Hambali. Ada yang menyebutnya Salafi. Hal ini terlihat dalam al-Ghunyah. Dia sangat teguh memegang paham akidah madzhab Hambali. Oleh karena itu, *dia sama sekali tidak memercayai segala pemujaan, karamah, dan wasilah.*
Sementara Futuh al-Ghaib menggambarkan pikirannya tentang perilaku tasawuf yang dituntun oleh syariah. Buku kedua inilah yang dijadikan pijakan sebagian pemujanya dalam laku tasawuf. Dia pun mendirikan *Tariqat Qadiriyah dengan tujuan membimbing laku tasawuf ‘amali yang dituntun syari’ah.* Buku lain yang merinci tasawuf ‘amali ini adalah Sirr al-Asrar Fi Ma Yahtaju Ilaihi al-Abrar. Buku yang menyingkap rahasia manfaat batiniah dari ibadah shalat, zakat, puasa, dan haji.
Abdul Qadir mengkritik Islam warisan. *Islam yang hanya “melakukan” ibadah.* Kesadaran batiniahnya kurang. Maka ada dua hal yang harus dilakukan untuk memperbaiki ini, yaitu *berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan mengingat dan menghadirkan Allah dalam kalbu.* Amaliyah ibadah dengan memasukkan dua hal itu, menurutnya, akan membimbing kepada Islam yang sebenarnya. Inilah yang dimaksud dengan tasawuf ‘amali.
☪️ *Beragama dengan Kebodohan Lebih Banyak Mafsadat*
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memandang banyak kemaslahatan pada ilmu. Sebaliknya, beragama atau beraktivitas apa pun dengan kebodohan dapat membawa lebih banyak mafsadat. Syekh Abdul Qadir Jailani memang tidak memberikan contoh kerusakan atau jenis mafsadat yang diakibatkan oleh orang beragama dengan kebodohan. Tetapi, isyarat dari Syekh Abdul Qadir Jailani setidaknya *mengingatkan kita untuk mengecilkan dampak mafsadat itu dengan mengurangi kebodohan tersebut.*
من عبد الله على جهل كان ما أفسده أكثر مما أصلحه
Artinya, _“Orang yang menyembah Allah dalam kebodohan lebih sering membawa mafsadat daripada membawa kemaslahatan,”_
(Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Al-Fathur Rabbani wal Faidhur Rahmani, halaman 288).
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani bukan mengada-ada dalam hal ini. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani boleh jadi terinspirasi dari hadits riwayat (HR At-Turmudzi, Ibnu Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi, At-Thabarani, dan Ibnu Asakir).
الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ ، مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلاَّ ذِكْرُ الله، وَعَالم وَمُتَعَلِّم
Artinya, _“Dunia itu terlaknat, demikian juga isi dunia kecuali zikir, orang alim, dan orang yang belajar,”_
(HR At-Turmudzi, Ibnu Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi, At-Thabarani, dan Ibnu Asakir).
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menarik simpulan, sesuatu yang dikecam oleh syariat melalui hadits ini mesti mengandung larangan secara syar’i dan mafsadat. Oleh karena itu, tidak heran kalau Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan beragama secara bodoh membawa lebih banyak mafsadat daripada kemaslahatan baik untuk dirinya, untuk masyarakat, maupun untuk Islam itu sendiri. Orang beragama dengan bodoh tidak termasuk ke dalam pengecualian. Orang bodoh termasuk salah satu dari isi dunia yang mendapat laknat karena kegelapan di mana ia dapat terjatuh ke dalam lubang maksiat dan larangan agama tanpa ia ketahui dan sadari.
والجاهل واقع في ترك الطاعات وفعل المعاصى شاء أم أبى فإنه لا يدري أي شيء الطاعة التي أمره الله بفعلها ولا أي شيء المعصية التي نهاه الله عن ارتكابها ولا يخرج من ظلمات الجهل إلا بنور العلم
Artinya, _“Orang bodoh jatuh ke dalam pengabaian taat dan perbuatan maksiat dengan kemauan atau ketidakmauannya, *tanpa ia ketahui mana perbuatan taat yang diperintah Allah untuk dilakukan dan mana maksiat yang dilarang Allah.* Seseorang tidak akan keluar dari kegelapan kebodohan kecuali dengan cahaya ilmu,”_
(Risalatul Mudzakarah).
*Beragama dengan kebodohan jelas mencelakai diri sendiri, masyarakat, dan agama Islam itu sendiri.* Dalam konteks bermasyarakat dan berbangsa, aktivitas beragama dengan kebodohan tidak hanya berisiko melanggar larangan agama dan norma sosial, tetapi juga undang-undang yang berlaku.
✍🏻 #Kalam Iktikaf Edisi 06
#TKKAbduh
Nuun wal qalami wa maa yasythuruun
Posting Komentar untuk " 🌔 SYEKH ABDUL QADIR JAILANI; BERAGAMA DENGAN KEBODOHAN LEBIH BANYAK MAFSADAT"