Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjadi Guru Keluarga Menyiapkan Generasi Pejuang

Sumber : freepik.com

Perkembangan zaman yang semakin maju diiringi dengan berubanya pola pikir dan tujuan pendidikan mengakibatkan berkembangnya budaya materialistic dan hedonistic. Budaya tersebut menganggap bahwa sekolah hanya sebagai Balai Latihan Kerja (BLK) yang setelah lulus kemudian mampu dicetak menjadi pekerja. Sehingga tujuan sebenarnya dari menuntut ilmu justru jadi terabaikan, yakni mencetak generasi rabbani, pejuang, dan khaira ummah. Peran orang tua dalam menyiapkan anaknya menjadi generasi pejuang sangatlah penting, peran mereka mampu menjadikan mereka sadar dan paham terhadap hakikat diri dan tujuan penciptaanya. Dalam sebuah hadist dikatakan, 

“Setiap anak yang dilahirkan itu adalah suci, kedua orang tuanyalah yang membuat mereka menjadi yahudi, nasrani, dan majusi” (HR. Imam Bukhori). 

Dari hadist diatas dijelaskan bahwa betapa pentingnya kemampuan orang tua untuk menjadi guru bagi anak-anak. Maka sangatlah aneh, jika proses pendidikan dalam lingkup orang tua tidak menjadi tujuan utamanya yang mana lingkup orang tualah yang merupakan lingkup pertama sedari mereka lahir ke dunia. Sebab manusia tidak sama dengan hewan yang aktivitas utamanya adalah hanya makan dan bersenang-senang.

Kemudian, yang menjadi pertanyaan besar saat ini adalah mengapa dari sebanyak kasus di Indonesia terhitung bahwa terdapat 70%  kasus terkait perceraian, dan istrilah yang menceraikan suaminya? Hal tersebut tidak lain yakni dikarenakan mereka belum mampu memahami konsep “Sakinah Mawadah wa Rahmaah”, yang juga bisa diartikan “Semoga menjadi keluarga yang tenang, tentram, damai, penuh cinta dan kasih sayang atau juga semoga menjadi keluarga bahagia di dunia dan di akhirat.” Di Indonesia pun tidak ada pelajaran terkait pendidikan keluarga yang mana merupakan suatu ilmu yang sangat penting supaya bisa memahami hakikat dari sebuah keluarga. Oleh karena itu, orang tua setidaknya harus memiliki 6 materi pokok dasar sebagai guru dalam keluarga, diantaranya ialah: 

1.Islamic worldview (Islam sebagai agama wahyu dari Allah SWT), 

2.Pendidikan anak, 

3.Fiqhud dakwah, 

4.Fiqih keluarga sakinah, 

5.Tantangan pemikiran kontemporer, dan 

6.Sejarah peradaban islam.


Selain 6 materi pokok tersebut orang tua juga harus mengajari mereka dengan adab. Agama Islam mengajarkan pentingnya adab sebelum berilmu. Adab bukan hanya kepada manusia saja, tetapi kepada makhluk hidup lain. Dalam sebuah hadist dikatakan bahwa 


“Akrimu Auladakum, wa ahsinu adabahum” 

Artinya:

muliakanlah anak-anakmu dan perbaiki adab mereka. (HR.Ibnu Majah).

Imam Al-Ghazali adalah salah satu tokoh yang patut ditiru dalam mendidik anak untuk menyiapkan generasi pejuang. Menurut Imam Al-Ghazali pendidikan adalah suatu upaya untuk membentuk insan paripurna, baik didunia maupun diakhirat. Manusia dapat mencapai kesempurnaan apabila mau berusaha mencari ilmu dan selanjutnya mengamalkan fadhilah melalui ilmu pengetahuan yang dipelajarinya. Fadhilah ini selajutnya dapat membawa manusia lebih dekat dengan Allah SWT dan pada akhirnya dapat membahagiakanya di dunia dan akhirat. 

Menurut Ustadz Adian Husaini pendidikan adalah untuk mempersiapkan“Generasi Shalahudin” yaitu suatu generasi yang dapat bertanggung jawab, mempunyai aqidah yang kuat, mencintai ilmu, kuat ibadah dan zuhud. Generasi inilah yang diharapkan mampu untuk membuat sejarah baru, mengembalikan keadaan dari generasi lemah menjadi generasi yang kuat dan disegani “Khaira Umah” (Generasi Tangguh). Orang tua adalah bagian terpenting dalam mendidik dan mewujudkan generasi pejuang seperti sekarang ini. Dari rahim nya akan lahir generasi-generasi yang kuat dan tangguh. Wajar jika ada keprihatinan atau kegelisahan yang dialami oleh orang tua pada kondisi saat ini. Anak-anak kita adalah harapan di masa depan bahwa mereka lah yang akan mengalirkan kesholihan kepada kita, jangan sampai mereka memiliki paradigm cara berfikir dan nilai-nilai oleh kaum elit saat ini.

Salah satu ujian yang dapat merusak iman mereka yaitu masuknya nilai-nilai dan pemahaman peradaban barat yang cenderung lebih kepada materialistic, hedonistic, dan juga mistik. Berusaha untuk mengembangkan berbagai macam tekhnologi ilmu pengetahuan agar bisa melampui garis qodratnya sebagai manusia. Ilmu pengetahuan seharusnya dapat memberikan konsep cahaya pada jiwa yang semakin mendekatkan kepada sang pemilik cahaya. Konsep ilmu pengetahuan peradaban barat secara terus menerus dikembangkan tanpa ada ujungnya. Pengembangan ilmu pengetahuan tersebut dengan tujuan materialistic yang hanya ingin mengejar kepentingan hal dunia. “Al-Wahnu” cinta dunia dan takut mati. Padahal jika di Agama Islam sudah sangatlah jelas bahwa konsep dari ilmu pengetahuan itu pada hakikatnya adalah untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah SWT.


Selain itu orang tua juga harus membekali mereka dengan ilmu yang bermanfaat, yakni ilmu yang dapat menambah ketaqwaan kepada Allah SWT, menambah ketajaman mata hati untuk mengenal cacat diri kita, menambah kecintaan kepada Allah SWT. Imam Malik rahimahullah bersabda, 


“Haqun’ alaa man thalaba al-ilma an-yakuuna lahu waqaarun wa- sakinatun wa khasyyatun” (orang yang mencari ilmu seharusnya memiliki sifat ketenangan, ketentreman dan rasa takut kepada Allah SWT). 


Jika seseorang masih sering panic, gelisah dan galau perlu dipertanyakan tentang ilmu yang dipelajarinya bermanfaat bagi dirinya sendiri atau belum. Jika ternyata belum bagaimana ilmu tersebut dapat memberikan kebermanfaatan bagi orang lain. Cara untuk memperoleh ilmu kaitanya dengan “Tazkiyatun Nafs” kesucian jiwa melalui maqam-maqam dalam tasawuf. Maqam atau tigkatan tersebut dibagi menjadi syariat, tarekat, hakikat dan ma’rifat. 


Allah SWT tidak akan memberikan ilmu nya kepada orang yang jiwa dan hatinya kotor atau bermaksiat. Karena kembali lagi kepada konsep ilmu diaatas adalah sebagai cahaya yang menerangi jiwa. Bagaimana cahaya tersebut dapat menerangi jiwa ketika yang ada didalam jiwa kotor, bermaksiat dan gelap. Naudzubillah min Dzalik.


Ditulis oleh : 

Immawati Watini

Sumber : Husnain, Adian. Kiat Menjadi Guru dalam Keluarga Menyiapkan Generasi Pejuang. Pustaka Arafah



Posting Komentar untuk "Menjadi Guru Keluarga Menyiapkan Generasi Pejuang"