Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Belajar Dari Kisah Cinta Layla Majnun


Perjuangan Majnun mendapatkan cinta Layla
Berbicara tentang cinta, cinta merupakan fitrah manusia dan kita semua pasti bisa merasakannya. Entah itu cinta dengan pasangannya,dengan orang tuanya dst. Allah swt yang menciptakan cinta dan wajib kita utamakan keberadaannya di atas cinta kepada yang lain. Begitu baiknya Allah memberikan rasa cintanya kepada setiap hamba nya. Tentunya kita harus memperbanyak bersyukur atas segala kasih sayang dan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.  Apalagi kita sebagai pemuda Tentunya, sudah masyhur akan kisah cinta yang begitu unik, yaitu Layla Majnun. Kisah cinta yang mengisahkan pengorbanan seorang pemuda untuk kekasihnya dan kisah ini ditulis oleh seorang yang bernama Nizami. Sebenarnya Sebelum ditulis oleh Nizami menjadi sebuah roman, Layla Majnun merupakan sebuah cerita rakyat (folklore) yang berkembang di timur tengah, Kemudian oleh  Nizami dikemas dalam karya sastra.

Nizami ini merupakan seorang sufi yang sering mengisahkan cerita cinta sebagai simbol dari penyatuan diri dengan Tuhan. Begitulah hakikat dari cerita Layla Majnun, syiar yang dikemas dalam bentuk karya sastra agar mudah diterima  dan di fahami oleh pembaca untuk lebih mencintai Tuhannya.
Adapun kisah yang masyhur dari Layla Majnun ialah, ketika Suatu hari Majnun (qais) datang ke perjamuan makan. Sebenarnya ia tak begitu suka menghadiri acara semacam itu, berhubung orang yang menggelar jamuan itu adalah ayah Layla/ayah dari orang yang dikasihinya, ia pun mau menghadirinya. Ya tentu Ini adalah kesempatan nya untuk bertemu Layla (sang gadis yang ia kasihi dan ia damba-dambakan).

Majnun tiba di tempat perjamuan dan melihat antrian tamu di meja prasmanan nampak di ujung depan sana, Layla sedang menyuguhkan hidangan bagi para tamu. Kemudian  dada Majnun berdegup kencang, antrian makin mendekat ke depan, tangannya gemetar saat mengambil piring untuk makan. Begitu melihat wajah Majnun, serta merta Layla membanting piring yang disodorkan Majnun itu. Kemudian  Layla marah-marah dan dengan muak membentak Majnun serta menyuruhnya pergi dari situ. Seluruh orang kampung yang mengetahui latar belakang mengapa Layla ngamuk-ngamuk, dan orang lain tertawa saja. Mereka merasa Majnun terlalu mencintai juga menggilai Layla dan sikap Majnun yang seolah-olah tidak mengerti jika Layla tidak suka padanya. Begitu piring dibanting dan semua orang yang berada di sana menertawakannya.

Justru Majnun malah tersenyum senang. Wajahnya kelihatan sumringah dan dia terlihat bahagia sekali. Salah satu tamu yang ada di sana merasa penasaran, lalu bertanya kepadanya: “Hai Majnun, mengapa kau tertawa senang? tahukah kamu semua orang di sini menertawakan nasib cintamu yang sial serta kebodohanmu? apakah kau tidak marah dan malu piringmu dibanting oleh Layla?
Majnun hanya tersenyum dan menjawab. “Aku tahu kenapa Layla membanting piringku. Ia menginginkanku agar mengantri ulang lagi. Agar aku bisa melihat wajahnya dari kejauhan. Agar aku bisa bertemu dengannya lagi”.

Inilah bukti bahwa Majnun begitu mencintai dan menggilai sang kekasihnya. ia tidak memperdulikan apa yang dilakukan kekasihnya, entah  itu menyakitinya dan membuatnya  malu. Akan tetapi Majnun husnudzon kepada kekasihnya itu, ia malah berbaik sangka atas apa yang dilakukan kekasihnya itu semata-mata untuk kebaikannya. Dengan  piring Majnun dibanting maka Layla memberi kesempatan Majnun untuk bisa antri lagi dan memandangi wajah Layla juga bisa bertemu lagi dengan kekasih yang sangat ia cintai. Ya meskipun cara Layla itu kurang baik dan  terkesan mempermalukan si majun.  
Inilah Pelajaran dari Nizami, jika kita jatuh cinta pasti sesuatu yang kita cintai akan kita hargai dan kita hormati. Sama halnya dengan cinta pada Allah swt, pasti kita memuliakan semua yang berhubungan dengan Allah.

Kemudian pertanyaanya : “kita yang mengaku mencintai dan beriman kepada Allah swt, apakah kita sudah senantiasa berbaik sangka dan berlapang dada ketika ujian atau musibah itu datang menghampiri kita ? Ataukah justru kita malah berburuk sangka kepada Allah (karena diberikan ujian atau musibah itu) ?”

Mungkin ini bisa menjadi bahan muhasabah bagi kita. terkadang ketika ujian dan musibah datang,  kita selalu mengeluh dan suudzon kepadaAllah. Menganggap Allah tidak adil terhadap kita. Rubah itu semua, gantilah dengan prasangka baik kepada Allah swt. Berserah dirilah pada Allah dan tanamkan dalam hati kita bahwa Allah akan memberikan kemudahan setelah ada kesulitan dan Allah lah yang akan menolong kita, bukan malah menyekutukan Allah atau bahkan malah kufur. Naudzubillah.

Seharusnya Kita yang mengaku iman kepada Allah itu yaqin bahwa ujian dan musibah itu ialah tanda kasih sayang Allah kepada kita dan dengan itu bisa menghapuskan dosa-dosa kita dan mengangkat derajat kita asalkan kita bersabar.

Tentunya kita ingat ketika Allah swt memberikan ujian kepada Nabi Ayub, kemudian Nabi Ayub bersabar menghadapi ujian itu dan berbaik sangka kepada Allah, atas kesabaran dan berbaik sangkanya Nabi Ayub itu, Ahirnya Allah memberi kemudahan dan mengangkat segala ujian Nabi ayub.

Tenang sahabat, Pasti ada hikmah dibalik ujian dan musibah, tidaklah kita ragu sedikitpun bahwa Allah adalah dzat yang maha bijaksana dan tidak sedikitpun Allah menganiyaya hambanya. Allah swt berfirman, yang artinya :
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (QS. Al-Baqarah: 155) (yaitu) orangorang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS. Al-Baqarah: 156) Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orangorang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157).  Dengan keyakinannya ini pula Allah Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya.

Inilah yang dinyatakan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya, yang artinya :
“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allah, barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Qs at-Taghabun/64:11).  Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah Ta’ala tersebut, maka Alah Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allah Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya”.

Oleh : Rambat Nur Hanadi

(Kabid Tabligh PK IMM Muhammad Abduh UMS Cabang Sukoharjo) 


Posting Komentar untuk "Belajar Dari Kisah Cinta Layla Majnun"